Home » » YANG PINGGIR JALAN

YANG PINGGIR JALAN

  Oleh : Darwin Nasution

'Yang pinggir jalan' he he he itu akan menunjuk ke banyak tempat. Hampir semua tempat semua ada jalannya, mesti harus melewati jalan tikus kecil berkelok, di bibir jurang, masuk lorong dan gorong semua akan ada di pinggir jalan. Apalagi misalnya properti manusia seperti rumah, sekolah, restoran, sawung makan dan lain-lain fyi sah mesti pinggir jalan.

"Bapak jalan aja ke Thenk Saw yang dekat Yapura", seru Davina mantap. Pak Gurunya juga menjawab lebih mantul, "Oh Yapura yang pinggir jalan ya? Ya, sahut Vina lagi di seberang sana". Mereka Hana, Vina, Riska dan Putra lagi di bumi walasnya Bu Leni di sekitaran Gunung Malang.

Pak Guru berpikir tunggal, Yapura yang sering dilewati, Yapura SMPIT di Jalan Abdul Fatah Bojongjengkol. Tidak bertanya lagi "Yapura yang mana?" Padahal pernah dapat info dari Putra bahwa ada Yapura belakang yang ada di Desa Situ Daun. Logikanya Gunung Malang lokasi mereka nelpon itu lebih dekat Yapura Belakang, dari pada Yapura Depan Bojongjengkol.

Tapi, kenapa pula si Bapak Guru yang sudah ratusan kali lewat di muka Yapura Depan, tidak bisa mengidentifikasi tempat makan kredibel di sekitarnya, apalagi ada judulnya Thenk Saw. Sampailah beliau dari Aliyah SMI ke Yapura Depan, baru dapat kabar anak-anak menunggu di Yapura Belakang. Malu bertanya sesat di jalan. Atau kurang bertanya jalan-jalan. Itu pengalaman yang ahhai sebetulnya agak menggelikan. Tapi putri Bapak yang ikut nyabarin "Ayo yah putar balik kita ke sana". Pas lihat presisi waktu maps mbah Google perlu waktu minimal 18 menit ke Yapura Belakang.

Itulah, jangan mencukupkan informasi gantung. Tanya lagi identify yang lain, desa, atau kalau sekolah SMK atau SMP misalnya. Atau praktisnya saat itu kenapa tidak kepikiran minta Shareloc. Supaya tepat tempat dan tepat waktu, efektif dan efisien.

Btw, sampai di lokasi, aw aw aw, lokasi nya bagus. Sawungnya kontruksi tradisional, bodi bambu dan atap daun nipah.  Bersih dan terawat, lengkap dengan pemanis asesoris interior di sana-sini. Setelah anak-anak menyerahkan kue bulat bertajuk " Thanks for Pak Darwin"--pesannya sebagai tanda terima kasih mereka selama jadi siswaku--kami berenam memesan makanan, dan makanan sudah dihadapan, eh tiba-tiba turun hujan. Lengkap sudah sambil makan kami istirahat dan tak akan go home sampai hujan reda.



Di antara menyantap kudapan soto, baso dan jus jeruk yang rata-rata kami pesan, dan hujan masih menerpa atap dan dinding sawung, cewek-cewek memanfaatkan durasi untuk menggoda dedek Putra. Sang Dedek hanya mesan jus mangga dingin, kabarnya lagi sakit beuteung gak pingin diisi. "Dedek, teteh bilang ya jangan minum es nanti batuk", seloroh Riska ke Putra. "Awas ya tak bilangin mamah klo masih minum es, nanti tambah sakit lho", goda Riska lagi. Dedek Putra yang di nyek nyengir aja, ngerasa udah biasa digituin ama sohib-sohibnya, yang telah tiga tahun mereka bersama di Aliyah.

Satu jam lebih gak terasa, bari nunggu hujan kami ngobrol ngalor ngidul, ke sana di mari, dulu kiwari. Di sela ngobrol Vina nyeletuk " Mau ambil penjepit bulu mata dulu ah biar ...biarin", katanya bikin keki kami. Maksudnya candaan dibelokkan biar gak garing, ... biar cantik meureun.



Dalam hati bapak, bercanda pula "Pesanan makan kita ini akan bapak b(i)yarin pas kita mau pulang". Lha apa yang mungkin terjadi kalo benar kenyataan. Mungkin Putra akan dijadikan jaminan, karena tampangnya pas keliatan berfulus untuk menyelesaikan tagihan. Ha ha canda, sebelum pulang udah bapak bayyarin, kita tenang balik badan. Hana, Vina, Riska boti (bonceng tiga) dan Putra sendiri, tidak lama belok kiri ke arah Cibitung dan Cinangka. Pak Darwin dan putrinya Hasna lurus ke arah Babengket lalu akan nyampe Cibanteng. 

Thanks Genk 12th, happy graduation ... See you again ! 


0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger