Oleh : Darwin Nasution**
Prasasti Kebon Kopi I (Prasasti Tapak Gajah) di deskripsikan untuk membedakannya dengan Prasasti Kebon Kopi II yang pernah ditemukan tapi hilang, dimana lokasinya hanya dipisahkan oleh jarak 1 km. Kedua prasasti ditemukan di perkebunan kopi di Kampung Pasir Muara Ciaruten Ilir.
Deskripsi lebih panjang akan dibuat untuk Prasasti Kebon Kopi I, Prasasti Kebon Kopi II yang telah hilang hanya akan disampaikan sekilas dalam tulisan ini.
Prasasti Kebon Kopi II
Seperti sudah disinggung di atas, ringkasnya, Prasasti Kebon Kopi II ditemukan tidak jauh dari lokasi ditemukannya Prasasti Kebon Kopi I, ditemukan prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara juga yang kemudian dinamakan Prasasti Kebon Kopi II. Sayangnya, Prasasti Kebon Kopi II atau Prasasti Pasir Muara atau Prasasti Rakryan Juru Pengambat, kini telah hilang karena dicuri pada sekitar 1940-an. Sebelum hilang, seorang profesor berkebangsaan Belanda, FDK Bosch, pernah mempelajari prasasti ini. FDK Bosch menyebutkan bahwa terdapat tulisan dalam aksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno yang berbunyi, "Batu peringatan ini adalah ucapan Rakryan Juru Pangambat, pada tahun 458 Saka (932 Masehi), bahwa tatanan pemerintah dikembalikan kepada kekuasaan raja Sunda." Bosch melihat penggunaan bahasa Melayu sebagai tanda pengaruh Kerajaan Sriwijaya di kawasan Jawa Barat.
Prasasti Kebon Kopi II yang sudah hilang, pernah didokumentasikanPrasasti Kebon Kopi I (Prasasti Tapak Gajah)
Prasasti Kebon Kopi I terletak di Kampung Muara, termasuk wilayah Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor. Desa Ciaruten Ilir sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ciampea, sebelah Selatan dengan Desa Galuga, sebelah Timur dengan Desa Ciampea dan Desa Rancabungur, Sebelah Barat dengan Desa Karehkel. Termasuk klasifikasi desa swadaya bercirikan: Lokasi desa terpencil atau daerahnya terisolir dari daerah lain; Penduduknya masih jarang; Penduduknya masih memegang teguh adat istiadat; Lembaga sosial yang ada masih sederhana; Tingkat pendidikan dan produktivitas masyarakat rendah; Kegiatan penduduk dipengaruhi dan bergantung pada alam; Masyarakat cenderung tertutup dari pihak luar; Sistem perhubungan dan transportasi kurang berkembang; Mayoritas mata pencarian penduduk sebagai petani; Lembaga-lembaga desa belum berfungsi dengan baik; Administrasi belum dilaksanakan dengan baik; Teknologi masih rendah; dan Hubungan antar manusia sangat erat.
Sejarah
Prasasti ini ditemukan pada abad ke-19, ketika dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi. Oleh karena itu prasasti ini disebut Prasasti Kebon Kopi I. Hingga kini prasasti tersebut masih berada di tempatnya ditemukan (in situ). Prasasti ini berada pada koordinat 106°41'25,2" Bujur Timur dan 06°31'39,9" Lintang Selatan dengan ketinggian 320 m di atas permukaan laut. Area situs ini merupakan kawasan pertemuan tiga sungai, yaitu Sungai Ciaruten di selatan, Sungai Cisadane di timur, Sungai Cianten di barat, serta muara Sungai Cianten yang bertemu dengan Sungai Cisadane di utara. Lokasi ini berjarak sekitar 19 kilometer ke arah Barat Laut dari pusat kota Bogor menuju ke arah Ciampea. Kondisi jalan menuju lokasi cukup memadai, tetapi dari jalan raya belum dilengkapi dengan penunjuk jalan.
Prasasti dipahatkan di atas sebuah batu datar dari bahan andesit berwarna kecokelatan berukuran tinggi 69 cm, lebar 104cm dan 164 cm. Di permukaan batu dipahatkan sepasang telapak kaki gajah dan mengapit sebaris tulisan berhuruf Palawa dalam Bahasa Sanskerta.
Prasasti Kebon Kopi I disebut juga Prasasti Tapak Gajah karena di permukaannya terdapat pahatan tapak kaki gajah. Selain itu, isi prasasti ini menceritakan tentang gajah tunggangan dari Raja Purnawarman. Menurut catatan sejarah, Prasasti Kebon Kopi I ditemukan pada abad ke-19, ketika sedang dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi. Awal mula ditemukannya prasasti ini adalah ketika seorang tuan tanah pemilik perkebunan kopi bernama Jonathan Rigg melaporkan penemuan prasasti di tanahnya pada 1863. Setelah itu, laporan mengenai Prasasti Kebon Kopi I pertama kali dikemukakan oleh NW Hoepermans pada 1864, yang kemudian disusul oleh beberapa uraian lain dari JFG Brumund (1868), AB Cohen Stuart (1875), PJ Veth (1878, 1896), H Kerm (1884, 1885, 1910), RDM Verbeek (1891), dan J Ph Vogel (1925). Selain itu, penemuan prasasti ini juga dilaporkan kepada Museum Nasional Indonesia di Batavia.
Bahan dan Isi
Sampai saat ini, Prasasti Kebon Kopi I tidak dipindahkan dan masih berada di lokasi penemuannya. Prasasti Kebon Kopi I menampilkan pahatan tapak kaki gajah yang dipercaya merupakan tunggangan Raja Purnawarman. Isi Prasasti Kebon Kopi I menyatakan bahwa,
"Di sini tampak sepasang tapak kaki ... yang seperti (tapak kaki) Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) agung dalam ... dan (?) kejayaan",
Tulisan dalam aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Tulisan pada prasasti ini terpahat pada sebongkah batu andesit dan diapit oleh sepasang gambar telapak kaki gajah.
Dari penjelasan di atas menurut interpretasi banyak kalangan pengaruh Hindu-Buddha sudah lama terjadi di Tatar Sunda, terutama Kerajaan Tarumanegara. Raja yang berkuasa memiliki sistem pertahanan perang yang sudah menggunakan kenderaan gajah. Padahal diketahui Jawa bukan habitat gajah, berarti mungkin didatangkan dari India pada zaman itu. Penyebaran agama Hindu telah lama terjadi karena intensnya hubungan Nusantara dengan India dan Cina.
*tulisan diolah dari berbagai sumber dan sebagian narasi dari penulis
**penulis adalah guru sejarah pada MA Shautul Mimbar Al Islami Tenjolaya






0 komentar:
Posting Komentar