Home » » PRASASTI JAMBU CIGUDEG*

PRASASTI JAMBU CIGUDEG*

 

Oleh : Darwin Nasution**

Di Bogor Barat, sebutlah rentang antara Darmaga sampai Jasinga, terdapat tiga prasasti terkenal, yaitu Prasasti Jambu Cigudeg, Prasasti Kebun Kopi, dan Prasasti Ciaruten. Hal ini sekaligus menandakan Bogor Barat adalah daerah bersejarah yang telah ada sejak zaman Hindu-Buddha abad ke 2-19 M. Wilayah yang sudah sangat tua berdasarkan temuan prasasti. Deskripsi mengenai ketiga prasasti dimaksud akan dihantarkan oleh penulis secara berurutan, akan dimulai dari Prasasti Jambu Cigudeg.

Lokasi

Prasasti Jambu terletak di Pasir Sikoleangkak (Gunung Batutulis ±367m dpl) di wilayah kampung Pasir Gintung, Desa ParakanmuncangKecamatan NanggungKabupaten Bogor. Desa Parakan Muncang : sebelah Utara berbatasan dengan Desa Batutulis, sebelah Selatan dengan Desa Nanggung, sebelah Timur dengan Desa Kalong Liud dan sebelah Barat dengan Desa Sukaraksa. Termasuk desa Swadaya dengan ciri-ciri umum : Lokasi desa terpencil atau daerahnya terisolir dari daerah lain; Penduduknya masih jarang; Penduduknya masih memegang teguh adat istiadat; Lembaga sosial yang ada masih sederhana; Tingkat pendidikan dan produktivitas masyarakat rendah; Kegiatan penduduk dipengaruhi dan bergantung pada alam; Masyarakat cenderung tertutup dari pihak luar; Sistem perhubungan dan transportasi kurang berkembang; Mayoritas mata pencarian penduduk sebagai petani; Lembaga-lembaga desa belum berfungsi dengan baik; Administrasi belum dilaksanakan dengan baik; Teknologi masih rendah; dan Hubungan antar manusia sangat erat. 

Koordinat 0°15’45,40” BB (dari Jakarta) dan 6°34’08,11”. Dahulu pada masa kolonial Belanda lokasi ini termasuk Perkebunan Karet Sadeng-Djamboe tetapi sekarang disebut PT.Perkebunan XI Cikasungka-Cigudeg- Bogor.

Discovery History

Prasasti Jambu ditemukan pertama kali tahun 1854 oleh Jonathan Rigg dilaporkan kepada Dinas Purbakala tahun 1947 (OV 1949:10), tetapi diteliti pertama kali pada tahun 1954. Bagaimana hubungan prasasti ini dengan sejarah lokasi. Mari kita lihat situs penting lain di Cigudeg, yakni Setu Cigudeg.

Setu Cigudeg luasnya kurang dari 1,5 hektar ini merupakan danau buatan yang diperkirakan dibangun pada  masa pemerintah kolonial Belanda pertengahan  abad ke 19 setelah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels selesai membangun Jalan Raya Pos (de Groote Postweg) Anyer-Panarukan pada tahun 1808. Danau ini terbentuk oleh adanya pembangunan  Dam/ tanggul sepanjang 300 meter dimana diatasnya dibuat jalan yang menghubungkan kota Bogor (Buitenzorg) dengan Rangkas Bitung dan Pandeglang.  Air yang tertampung di danau ini pada saat itu dipergunakan untuk irigasi pesawahan dan pembangkit listrik untuk keperluan sendiri oleh sebuah pabrik pengolahan teh yang kemudian beralih ke Karet milik pengusaha perkebunan bangsa Belanda yang berada disekitar Cigudeg.

Pada awalnya, danau ini memiliki kedalaman 0,5 sampai 20 meter yang memegang air dari dua mata air yang terletak di sisi timur dan selatan. Waktu berlalu dan usia danau Setu Cigudeg hampir satu abad telah menciptakan ekosistem baru yang terbentuk secara alami dan menciptakan habitat yang lebih baik bagi tanaman dan hewan air di sana pada waktu itu, dengan berbagai ikan dan udang Sampai Tahun 1942, ekosistem di sini disimpan baik tidak terganggu.

Jadi terlihat jelas bahwa tahun ditemukannya prasasti dan tahun pembangunan setu di rentang waktu yang sama, abad 19. Tentu prasasti dan kedatangan Belanda di wilayah ini beriringan. Adakah kemungkinan isi prasasti berkaitan dengan keberadaan bangsa penjajah yang sudah lama sekali di Bogor Barat umumnya, atau Cigudeg khususnya. KIta lihat isi prasasti Jambu Cigudeg.

Bahan dan Isi

Prasasti Jambu dipahatkan pada batu dengan bentuk alami (sisi-sisinya berukuran kurang lebih 2-3 meter).

Prasasti Jambu terdiri dari dua baris aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Sragdhara. Pada batu prasasti ini juga terdapat pahatan gambar sepasang telapak kaki yang digoreskan pada bagian atas tulisan tetapi sebagian gambar telapak kaki kiri telah hilang karena batu bagian ini pecah.

Prasasti ini menyebutkan nama raja Purnawarman yang memerintah di negara Tarumanegara. Prasasti ini tanpa angka tahun dan berdasarkan bentuk aksara Pallawa yang dipahatkannya (analisis Palaeographis) diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi.

Teks:
śrīmāndāta kṛtajnyo narapatirasamoyahpurātarumayāṃnāmmāśrīpūrṇṇapracuraripuśarābhidyavikhyātavarmmātasyédampadavimbadvayamarinagarotsādanénityadakṣaM. bhaktānāyandripānambhavatisukhakarasalyabhūtaṃripuṇāṃ

Bunyi terjemahan prasasti itu adalah:
"Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya yang termasyhur Sri Purnawarman yang sekali waktu (memerintah) di Tarumanegara dan yang baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya."

Bajunya tidak dapat ditembus oleh musuh, tapak kaki yang senantiasa menggempur kota-kota musuh, hormat pada pangeran, maksudnya raja Tarumanegara, tapi menjadi duri bagi musuh-musuhnya. Ada indikasi yang dimaksudkan adalah Belanda. Belanda sudah lama mengeksploitasi Cigudeg, mulai dari perkebunan teh hingga perkebunan karet. Setelah Belanda enyah, berubah lagi menjadi PT Perkebunan XI Cikasungka Cigudeg.


                                           Foto ini berlokasi di bagian timur Setu Cigudeg dengan latar belakang Gunung Tela (Cirangsad) diambil dari depan Rumah Sakit di Kampung Ciuncal tahun 1918 – 1925.


*tulisan ini diolah dari berbagai sumber

**penulis adalah guru sejarah MA Shautul Mimbar Al Islami Tenjolaya

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger