BONUS DEMOGRAFI , BEBANKAH?*
Oleh : Darwin Nasution
Ketika ini, Indonesia menempati posisi ke 4 sebagai dengan jumlah populasi terbesar di dunia, sekitar 273 juta jiwa. Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah sekitar 50 juta lebih pada tahun 2045. Menurut BPS usia 69,25% penduduk Indonesia berada di jenjang usia 15-64 tahun sebanyak 190.969.000. Sebanyak 24% penduduk berusia 0-14 tahun. Kemudian, 6,74% penduduk berusia 65 tahun ke atas. Jenjang usia terbesar ada pada usia produktif yang sering disebut bonus demografi, dimana ada dampak positif dan negatifnya.
Kekhawatiran pemerintah kemudian jadi
tampak dari berbagai pernyataan pejabat terkait dengan pertumbuhan penduduk
negeri ini. Sampai-sampai pemerintah berupaya melipatgandakan program KB era
baru. Pemerintah meluncurkan program Pelayanan KB Serentak sejuta Akseptor
(PSA) di banyak rumah sakit di Indonesia.
Ditambah lagi, tahun lalu PBB memberikan
penghargaan kependudukan United Nations Population Award untuk Indonesia,
karena memberikan kontribusi luar biasa, dan kesadaran terhadap pengendalian
kependudukan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menekan laju
pertumbuhan penduduk, jika ingin meraih kembali penghargaan dari lembaga
internasional tersebut.
Lalu, benarkah bonus demografi merupakan
bencana bagi Indonesia dari segi kesejahteraan, dan menghalangi program
keluarga berencana?
Program KB masa lalu maupun era baru tidak berpangaruh nyata terhadap kesejahteraan keluarga-keluarga Indonesia. Program sebelumnya dengan frasa "dua anak cukup" harus dipertanyakan efektifitasnya. Realitasnya, kelahiran lebih dari dua anak masih terus terjadi karena fertilitas penduduk negeri ini memang relatif tinggi.
Akhirnya pemerintah berupaya menata
ulang program kependudukan dengan KB era baru dengan memberikan pengarahan
kepada pasangan muda yang akan menikah agar mengendalikan kelahiran. Pemerintah
juga membuat Caring Economics agar pasangan muda, yang keduanya bekerja, bisa
memberikan pengasuhan paling baik bagi anak-anaknya kelak.
Namun, semua itu tidak akan mampu
menjawab persoalan tingkat kesejahteraan dan atau kemiskinan dalam keluarga.
Terbukti, program KB masa lalu telah berjalan sekitar 30 tahun, tetapi keluarga
kecil sejahtera dan generasi emas berkualitas belum juga didapat. Apa gunanya
menekan laju pertumbuhan penduduk dengan menggenjot KB era baru, tetapi tidak
memperbaiki pengelolaan berkeadilan SDA yang ditujukan untuk kesejahteraan
rakyat.
Dengan begitu, persoalannya bukan pada
tingginya angka kelahiran atau pertumbuhan populasi, melainkan gagalnya negara
menjamin kebutuhan sehingga rakyat miskin dan mengalami stunting atau kekurangan
gizi akut. Pun jika negara menekan populasi dengan alasan meningkatnya
kemiskinan, tingginya angka stunting, serta beratnya biaya pendidikan dan
kesehatan, sebenarnya semua bertentangan dengan konsep tugas negara menurut
Islam.
Sebanyak apapun jumlah anggota satu keluarga, jika penghidupan mereka dijamin negara, tentu tidak menjadi masalah. Masalahnya, negara abai terhadap pemenuhan sandang, pangan dan papan rakyatnya. Kemiskinan nyatanya pun bukan hanya terjadi pada keluarga yang memiliki dua anak lebih, melainkan juga pada yang belum berkeluarga, ataupun telah berkeluarga tetapi belum memiliki anak. Dalam Islam tidak ada kekhawatiran sebab semua ada porsi rezekinya selama masih ada di muka bumi.
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
Wa mā min dābbatin fil-arḍi illā
'alallāhi rizquhā wa ya'lamu mustaqarrahā wa mustauda'ahā, kullun fī kitābim
mubīn
Artinya: Dan tidak ada suatu mahluk
melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam mahluk itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya
tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul mahfuzh) (QS Hud 6)
Di sisi lain, Eropa dan Asia
Tenggara--Singapura khususnya--yang berupaya mengendalikan populasi dengan
pembatasan kelahiran, justru mengalami keresahan karena kecilnya pertumbuhan
penduduk. Malahan mereka berupaya mendorong dan memberi insentif untuk perempuan
yang bersedia hamil dan melahirkan. Di Jepang banyak sekolah tutup karena tidak
memiliki murid akibat menurun tajamnya jumlah kelahiran, bahkan mereka sampai
sebut resesi sex.
Bagi banyak negara di dunia, karena
minimnya kelahiran, terjadi potensi hilangnya generasi (lost generation). Hal
ini menjadi momok yang sangat mengkhawatirkan mereka belakangan ini.
Karena itu, dunia harus sadar bahwa
pertumbuhan penduduk adalah potensi, bukan beban, apalagi bencana atau ancaman.
Allah SWT telah menjamin ketersediaan rezeky buat hambanya, berapapun
jumlahnya.
Bonus Demografi Menuju Generasi Emas.
Kemiskinan yang dialami keluarga-keluarga di Indonesia, adalah kemiskinan struktural akibat penerapan sistem kepitalisme dan derivat-derivatnya. Sistem ini membuat kekayaan alam milik rakyat dikuasai dan dinikmati segelintir kartel, kapital dan oligarki. Dampaknya setiap keluarga sulit sejahtera karena tidak bisa menikmati hak mereka atas sumber kekayaan negerinya sendiri yang melimpah ruah gemah ripah loh jinawi.
Menurut Dr Fahmi Amhar, surplus
demografi ini semestinya disikapi positif. Negara seharusnya memformat
banyaknya jumlah penduduk menjadi generasi emas, generasi yang bertaqwa, sehat,
cerdas, gemar bekerja keras, dan dapat saling bersinergi.
Di masa khilafah, dalam waktu tidak
sampai satu generasi (25 thn), khilafah berhasil memproduksi generasi emas yang
berjaya selama berabad-abad. Islam memberikan wewenang dan arahan bagi setiap
keluarga muslim untuk mencetak generasi emas, generasi yang kuat, dan
menekankan jangan sampai meninggalkan warisan generasi lemah, sebab banyak
kerugian padanya.
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Dan hendaklah takut (kepada Allah)
orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang
mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu,
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan
tutur kata yang benar (QS An Nisa 9)
Ada dua hal yang patut dicontoh oleh
keluarga-keluarga muslim sesuai petunjuk Nabi Muhammad SAW dalam hal generasi
ini,
Pertama, menanamkan kesadaran pada generasi baru akan misi Islam bahwa Allah SWT memberi peran bagi manusia pada misi kejadiannya untuk beribadah dan menyebarkan rahmat ke seluruh alam.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (QS Az Zariyyat 56)
Dan Kami tidak
mengutus kamu wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam QS Al
Anbiya 107), ...dimana risalah buat nabi adalah risalah juga untuk diteruskan
umatnya, sampai rahmatan lil alamin itu tercapai
Kedua, menanamkan pada anak-anaknya terutama
generasi baru, bahwa umat Islam harus menjadi umat terbaik di tengah manusia.
Oleh karenanya mereka wajib menjadi manusia-manusia pembelajar, pembaharu, agen
kesejahteraan yang beramar makruf dan nahi munkar dalam keimanan.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi
ta`murụna bil-ma'rụfi wa tan-hauna 'anil-mungkari wa tu`minụna billāh, walau
āmana ahlul-kitābi lakāna khairal lahum, min-humul-mu`minụna wa
akṡaruhumul-fāsiqụn
Kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik (QS Ali Imran 110)
Masa kekhilafahan, sinergi antara keluarga, masyarakat dan negara terjadi sangat baik. Orang tua peduli pada pendidikan anak-anaknya, membawa mereka menuntut ilmu pada para ulama, dan ilmuwan. Masyarakat menjalankan peran amar makruf nahi mungkar sehingga lingkungan kondusif bagi keamanan umum dan tumbuh kembang anak. Negara menyediakan berbagai fasilitas pendidikan, kesehatan, dan terus mengupayakan kesejahteraan setiap keluarga.
Dalam sistem Islam, setiap keluarga akan sejahtera, atau ada upaya berkelanjutan terukur supaya sejahtera, tanpa harus ada pembatasan jumlah anggota keluarga. Sistem dan program kekinian harusnya diupayakan untuk mencapai hal ini.
Publik juga harus menyadari bahwa paradigma dengan menggenjot KB era baru tidak akan signifikan bagi kesejahteraan keluarga. Ekonomi kapitalisme dan pemerintahan demokrasi liberal telah gagal mengatasi berbagai persoalan ekonomi pada keluarga-keluarga di Indonesia khususnya, dunia umumnya.
Program KB era baru dan sejenisnya, merupakan solusi salah arah, yang mengalihkan masyarakat dari penyelesaian akar masalah. Kembalilah pada syariat, Insya Allah Indonesia dan dunia akan berkah dengan penduduk yang makin bertambah.
Bumi ini oleh Allah SWT mampu
menyediakan kebutuhan seluruh mahluk, tapi tidak untuk satu orang yang rakus
(Ismail Yusanto). Firman Allah SWT:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Walau anna ahlal-qurā āmanụ wattaqau lafataḥnā 'alaihim barakātim minas-samā`i wal-arḍi wa lāking każżabụ fa akhażnāhum bimā kānụ yaksibụn
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A'raf 96)
*Disampaikan di Kursus Bulanan, Wilayah Kursus Ciampea, pada
10 Maret 2024



0 komentar:
Posting Komentar