Oleh : Darwin Nasution
Beberapa waktu lalu situslakalaka mencatat perih di rona para pengambil keputusan di pusat perusahaan NOKIA di Finlandia, meringis bagai titik-titik salju menerpa atap dan dinding kantornya, Nokia tergerus karena telat dalam aplikasi Qwerty, lalu terjerumus lagi di lubang ketertinggalan saat nyaris semua hape mengaplikasi Android. Alangkah sedih merek sohor sampe ke ujung meteor tiba-tiba kalah penjualan dengan hape China, yang konon di sana lebih mirip industri rumah tangga. China memang plagiasi dan pembuat barang imitasi paling wahid di bumi.
Beberapa tahun ini alangkah menyedihkan melihat perusahaan Cocacola yang merasa tidak punya saingan dalam minuman karbonasi dan teh, tersisih setelah perusahaan-perusahaan kecil membuat minuman karbonasi murah dan teh gelas secengan. Mobil mereka biasanya penuh terisi delivery warung dan retail, sepertiganya pun kadang tidak habis. Begitu pula saingan sepadan mereka yang Amrik Pepsi ikut merasakannya. Tak sampai di situ, yang khas teh saja Teh Botol turut berdukacita. Setali tiga uang mereka bertiga barengan menderita. Bahkan yang terakhir si TB sampai jual teh botolan 500 ml 3 sepuluh ribu di depan kantornya. Teh botol belingnya tamat riwayatnya. Supir dan kenek deliveri di spreading jalanan mengguratkan khawatir dan muram durja pada pekerjaannya. Padahal mereka hanya dikalahkan kesederhanaan teh gelas produk se-Orang Tua dari Semarang.
Ada perusahaan sabun colek pencuci perabotan dapur tanpa iklan dari Tasikmalaya bernama Palem yang kurang lebih abai pula dengan inovasi. Mereka tidak berkutik ketika banyak perusahaan membuat sabun cair pencuci lemak instan yang lebih cling bling-bling. Sampai kini perusahaan itu sudah sulit terdengar entah ada di pangsa pasar mana berjualan.
Honda juga nyaris saja diasapi Yamaha di jalanan. Yamaha di tahun 2000-an sukses bikin motor matic dan disukai pasar. Mereka mengusai pangsa pas promo matic awal sekali, tiada tanding tiada banding. Untung Honda tersadar akan ketertinggalan langkah. Setelah dia mulai dengan presisi, ibarat pelari sprint dengan beberapa tolakan ancang-ancang ke belakang, dia berlari melesat wush...wush melampaui semua pesaingnya. Sampai kini hampir tiap tahun Honda mengeluarkan model baru. Yang si su-Juki malahan yang ngos-ngosan tak bisa mendekat. Yamaha walau tak berjejer tapi masih menguntit di belakang, masih bisa mengikuti.
Itulah berbagai kasus ketika perusahaan-perusahaan tidak jeli melihat TANDA-TANDA ZAMAN...ketika mereka adaptasi ternyata sudah ketinggalan, yang lain sudah jauh berjalan.





0 komentar:
Posting Komentar