Home » » KUDONG-KUDONG TUKANG HUDON (Sejarah Gerabah di Mandailing)

KUDONG-KUDONG TUKANG HUDON (Sejarah Gerabah di Mandailing)

Oleh : Darwin Nasution


Siluak kudong-kudong

Alak Siluak Tukang hudon

(uti-utian orang Tamiang kepada saudaranya di banjar Siluak)


Tamiang kudong-kudong

Alak Tamiang tukang hudon

(uti-utian dari orang kampung lain terhadap orang Tamiang)

Kerajinan periuk tanah (hudon tano untuk memasak nasi) di kelurahan Tamiang Kecamatan Kotanopan Kab. Mandailing Natal, utamanya di banjar Siluak, boleh disebut sudah punah. Kerajinan yang merupakan warisan turun temurun tersebut kini tiada penerusnya. Hal ini terjadi karena persaingan teknologi alat rumah tangga semakin ketat, akibatnya minat konsumen semakin menurun. Di tambah lagi tidak adanya rasa memiliki terhadap budaya ini, baik di ahli waris, tetangga, warga maupun pemerintah pada kalangan yang lebih luas.

Di Siluak, di tahun-tahun 1980-an yang lalu masih tersisa dua orang pengrajinnya, Bouk Emik dan Ompung Bayan, keduanya perempuan sudah meninggal dunia. Dulu waktu mereka masih hidup dan aktif produksi, saya sering mendatangi mereka di kediamannya. Keduanya  mengakui bahwa permintaan konsumen akan kebutuhan rumah tangga dengan berbahan dasar tanah tersebut sudah sangat kurang. Konsumen yang datang  beberapa orang biasanya hanya membeli untuk keperluan sound system dari tanah. Disebutkan sangat bagus hasilnya suara tajam (desis) bila speaker di masukkan ke dalam tanah yang sudah dibakar itu. Model sesuai dengan permintaan pemesan, biasanya berbentuk guci (buci dalam bahasa Mandailing)

Menurut Ompung yang akrab disapa Ompung Bayan ini menjelaskan, menekuni pekerjaan membuat periuk tanah  tersebut  sejak tahun 1960-an sampai waktu itu, sebelum beliau-beliau berpulang. Ompung Bayan dan Bouk Emik diketahui, belajar membuat periuk tanah dan sejumlah perabotan rumah tangga lainnya  dari almarhum ibu mereka. Sekarang tiada yang tersisa hanya  2 orang pengrajin inilah terakhir di ujung zaman. Mereka adalah ibu rumah tangga yang mengerjakan kerajinan periuk tanah sebagai pekerjaan sampingan selain bersawah dan berkebun kala itu.



Proses pembuatan periuk tanah harus melalui beberapa tahap mulai dari menggali tanah, menjemur tanah, menumbuk dan membersihkan, setelah itu tanah yang sudah dihaluskan dicampur dengan air dan dibentuk di atas mal yang terbuat dari kayu untuk  menjadi periuk, belanga, kendi dsb. Semuanya dikerjakan secara manual dengan mempergunakan alat tradisional dari batu, kayu dan kain. Setelah itu periuk yang masih basah dijemur selama 1-2 hari hingga matang dan siap untuk dibakar. Proses ini memakan waktu 5-7 hari dan pengerjaannya dilakukan pada musim kemarau.

Menurut Ompung Bayan, periuk yang baik harus menampakkan warna merah bata dan bentuknya yang proporsional.  Saat itu sebuah periuk dan belanga (untuk merebus dan menggulai) dihargai dengan Rp.20 ribu, sedangkan kendi (untuk memasak air dan merebus teh atau kopi) dan celengan dijual dengan harga Rp.15 ribu. Kalau speaker modif bisa berharga sampai Rp. 150.000. Kadangkala periukpun bisa dibarter dengan beras. Meski penghasilannya waktu itu tidak menentu namun masih boleh disebut sangat membantu perekonomian keluarga mereka.

Di musim kemarau banyak permintaan akan periuk tanah. Karena pada saat itu periuk tanah sangat bagus kualitasnya. Para pembeli datang ke rumah mereka untuk membelinya, beda dengan dahulu, sebelum desakan barang aluminium dan plastik,  mereka menjualnya di pasar Tamiang dan Kotanopan. Para pembeli tidak hanya dari Kelurahan Tamiang, tetapi juga dari desa lain di Kecamatan Kotanopan, bahkan dari kabupaten Mandailing Natal dan ibukota provinsi Sumatera Utara.

Ketika itu, Ompung Bayan dan Bouk Emik juga sudah kuatir akan proses pelestarian kerajinan ini, sebab kaum perempuan  tidak begitu respon dan memandang sebelah mata akan usaha produktif ini, bahkan sampai sekarang. Di sisi lain lahan yang selama ini menjadi tempat untuk menggali tanah liat, cadangan mulai menipis. Tapi katanya masih memungkinkan mendapat lahan baru di sekitar situ.


Kecamatan Kotanopan dalam hal industri banyak yang harus dicatat. Tetapi yang lebih spesifik dari Kecamatan Kotanopan itu sendiri adalah industri kerajinan tanah liat
“Hudon Tano” yang digeluti oleh masyarakat desa Tamiang banjar Siluak. Sebuah kerajinan sekaligus aktifitas dan dijadikan sebagai mata pencaharian hingga beberapa waktu lalu, tentu bukanlah hal yang lumrah. Tetapi perlu diingat bahwa pada masa silam, seperti yang sudah saya katakan dari awal bahwa pada masa itu belum ada satu orangpun yang menggunakan fasilitas modern baik itu raja maupun masyarakat biasa. 

Hudon Tano terlahir dari bumi Siluak, sebagai suatu daerah atau kampung yang telah memberikan kontribusi besar kepada seluruh masyarakat Tamiang kala itu. Sejarah dan fakta telah mencatatnya dalam benak setiap insan di bumi Siluak. Tidak ada satupun daerah atau wilayah yang sama seperti Siluak, kalau kita lihat dari kontribusinya. Seluruh masyarakat Siluak terus ke generasi berikutnya sampai pada 2 tokoh terakhir Ompung Bayan dan Bouk Emik, bisa hidup dan membangun kerajinan hudon tano, tentu merupakan juga bagian dari jasa orang Siluak yang mungkin dianggap hal yang lumrah atau sah sah saja, tetapi telah mampu membanggakan semua orang kala itu dengan kerajinan tanah liatnya (Ja Luik, tokoh masyarakat).

Suatu kenyataan yang sulit diamini tentunya oleh para pembaca yang berasal dari luar Siluak Tamiang, tetapi kalau kita kaji dari kemampuan praktis dan pragmatisnya, pantas dan layak Siluak disebut sebagai ciri khas. Sayangnya, pandangan ini telah punah dan tidak tertanam dalam sanubari orang Siluak saat itu, yang telah asyik dan begitu menikmati produk-produk modern untuk memasak, namun kalau kita kembali menoleh ke belakang, bahwa kita ini sampai bisa hidup sekarang adalah karena orang tua dan nenek moyang kita, dimana untuk mempertahankan hidupnya ada hal yang telah menjadi kewajiban bahwa manusia yang hidup harus makan, dan makanan itu diproses dengan menggunakan alat masak seperti periuk, belanga dan kendi.

Tetapi suatu pertanyaan kembali muncul, dengan menggunakan apa nenek moyang kita zaman dahulu memasak makanan? Kalau tidak percaya para pembaca silahkan melakukan survei mulai dari P.Sidempuan sampai Pakantan, tentu jawabannya cuma satu yaitu hudon tano, dan barang-barang turunannya. Begitu kita mendengar kata hudon, susah bahkan mustahil untuk melepaskan atau memisahkannya dari bumi Siluak.

“Dengan maksud untuk meremas tanah liat dan membentuknya menjadi periuk, agar berguna bagi orang banyak. Memberi makan lewat periuk tersebut mulai dari barat, sampai ke timur dan dari utara sampai keselatan.  Periuk untuk menanak nasi, dan menjerang air agar mereka merasa kenyang dan mampu melepaskan dahaga, sampai matanya terang seperti bintang, dan mukanya cerah menyala seperti langit yang tampak kemerah-merahan”. (Ja Pinantun, Tokoh masyarakat)

Untuk membuat bentuk periuk, diperlukan alat yakni dulang, panopa, batu ibul dan abit na alus (kain halus). Panopa modelnya seperti raket tenis meja namun terbuat dari kayu keras yang permukaannya halus dan rata. Setelah bagian bibir hudon yang sudah terbentuk itu menjadi kering, lalu dilanjutkan ke bentuk badan hudon.

Untuk melicinkan bagian badan dan kepala periuk bagian luar, digunakan alat kain halus yang dibasahi tadi. Setelah dilicinkan menggunakan kain tersebut, periuk yang sudah jadi disimpan atau dijemur seadanya untuk mendapatkan proses pengeringan yang maksimal sebelum dibakar.Proses penjemurannya memakan waktu sekitar 2-3 hari untuk dijemur di bawah terik matahari. Selanjutnya setelah periuk tersebut benar-benar kering sampai di bagian dalamnya, kemudian dibakar. Dalam proses pembakaran ini perlu disiapkan kayu yang cukup, serta alang alang, agar dapat menghasilkan periuk tanah yang berkualitas tinggi yaitu warna yang tampak kemerah merahan. Pembakaran yang maksimal adalah sekitar 1 atau 2 jam bara dan api terus menyala agar, menghasilkan kualitas yang maksimal. Selanjutnya setelah diangkat dari bara dan dingin, dibersihkan, dilap halus ... periuk siap  dipasarkan.

Periuk tanah yang merupakan alat memasak dengan aneka fungsi ini, secara langsung telah membuka mata publik bahwa Siluak yang begitu identik dengan tanah liatnya, mampu berdiri pada garda depan sebuah proses kerajinan dari tanah untuk mengambil sebuah peranan penting dalam menghidupi masyarakat Siluak di masa lalu, sekalipun tidak dirasakan secara langsung oleh generasi kita saat ini. Napas periuk tanah seolah olah sudah dicengkeram oleh peradaban modern yang sesungguhnya adalah merupakan imbas dari peradaban tradisional tersebut. Hudon Tano yang telah lama dilestarikan oleh masyarakat setempat, hampir punah dengan adanya keinginan instan orang memakai barang praktis modern yang belum tentu sehat.



Kesimpulannya, bahwa mereka dan kami serta kita sebagian besar masyarakat Kecamatan Kotanopan di masa lalu dibesarkan dari makanan yang dimasak oleh periuk tanah, sekalipun sampai dengan tulisan ini saya terbitkan juga ada yang sudah tidak menikmatinya atau bahkan tidak walau sekadar melihat wujudnya lagi.

Suatu kebanggaan tersendiri jika periuk tanah mampu mengasilkan parhudon tano na baru (pengrajin periuk tanah baru) yang berkiprah di bidang kerajinan tanah dengan belajar kembali pada era saat  ini. Kelangkaan industri periuk tanah ini, selain disebabkan karena kurangnya peran pemerintah dalam melestarikannya, juga merupakan imbas dari antusiasme dan hilangnya kesadaran masyarakat Siluak Tamiang dan daerah lainnya, yang sudah terkontaminasi dengan industri modern yang sudah begitu maraknya saat ini, merasuk dan menjelma setiap individu masyarakat.

Inilah sebuah pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan secara bersama sama. Pemerintah Sumatera Utara dulu pernah punya motto bagus ”MARSIPATURE HUTANA BE” (mengurus kampung masing-masing), seharusnya mampu mengembalikan kebudayaan sekaligus penyangga utama ekonomi masyarakat, terutama para pengrajin periuk Siluak atau Tamiang ini, yang semakin hari semakin tenggelam beberapa tahun lalu, dan pada saatnya kini hilang dengan sendirinya. Ini telah lama dibiarkan, sehingga saya mengajak kita semua untuk mulai menata diri kembali, mengenali dan mencintai kearifan lokal di daerah kita masing-masing, agar kita mampu mengangkat derajat dan martabat kita di kalangan yang lebih luas, dengan sebuah pola kemandirian berkarya yang harus sudah dimulai leluhur kita jauh di masa lalu. Sapaan stereotif itu, “SILUAK KUDONG-KUDONG ALAK SILUAK TUKANG HUDON...TAMIANG KUDONG-KUDONG ALAK TAMIANG TUKANG UDON”  tak akan muncul lagi jika pemikiran ke arah membangkitkannya kembali juga ikut hilang menjadi kenangan.

Holos roa pala nida baya di online sannari songon Shopee majolo, ngana kalah gari buatan Siluak i ibandingkon tu buatan luat na lain di Indonesia. Ahh... terkenang lagi, jadi meileh !


telah tayang di FB April 2013

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger