Oleh : Darwin Nasution
Hardiknas atau Hari Pendidikan nasional adalah peringatan atas jasa-jasa Ki Hajar Dewantara dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Beliau menjadi pioner bagi upaya-upaya memajukan taraf berpikir anak bangsa di masa penjajahan Belanda.
Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 02 Mei 1889. Beliau termasuk di antara sekian banyak mahasiswa yang belajar di STOVIA, Sekolah Kedokteran Belanda di Jakarta. Tapi, kuliah di sana tidak sampai tamat, Ki Hajar Dewantara kemudian bekerja sebagai jurnalis atau wartawan yang menyuarakan perih hati anak bangsa di suasana terjajah.
Pada 03 Juli 1922 beliau mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa di Yogyakarta. Lembaga pendidikan pertama yang diprakarsai seorang pribumi untuk semua kalangan saat itu, termasuk orang miskin. Masa itu lembaga pendidikan didirikan dan dikendalikan oleh penjajah Belanda, lebih cenderung hanya untuk bangsawan dan orang-orang kaya saja.
Untuk menghormati jasa-jasanya dalam bidang pendidikan, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal lahirnya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hari tersebut ditetapkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959.
Foto 1, karya Salma siswa kls X Masmi TenjolayaSementara itu Harkitnas adalah Hari Kebangkitan Nasional. Peringatannya dinisbahkan kepada lahirnya Organisasi Pergerakan Kebangsaan Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Walau pergerakannya kala berdirinya hanya sebatas wilayah Jawa-Madura, tetapi sudah sangat luas untuk masa tersebut karena keterbatasan kegiatan oleh Belanda.
Budi Utomo didirikan oleh Wahidin Sudirohusodo, Soetomo, Tirtokusumo, dan anggotanya termasuk juga Ki Hajar Dewantara. Jadi masih berisikan anak-anak STOVIA, kaum terdidik dari lembaga pendidikan tinggi Kedokteran, satu-satunya di Indonesia. Dipantau terus oleh Belanda bahkan terkategori yang bisa membahayakan eksistensi mereka.
Setelah merdeka, Ki Hajar Dewantara dan Rajiman Wediodiningrat mengusulkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang disetujui oleh Presiden Soekarno. Ditetapkan pada 20 Mei 1948 di Istana Kepresidenan Yogyakarta.
Foto 2 : karya Salma siswa kls X Masmi TenjolayaApa hubungannya Hardiknas dengan Harkitnas?
Sebagaimana kita tahu, pendidikan adalah proses perubahan perilaku. Dari yang tidak atau kurang baik menjadi baik. Dari yang tidak pintar jadi pintar, atau tidak berilmu menjadi berilmu. Di sana ada proses mendidik, dididik dan terdidik, mengajar, belajar dan terpelajar. Kondisi anak bangsa yang terdidik dan terpelajarlah yang menjadi cikal bakal bangkit melawan keterbelakangan dalam suasana terjajah.
Ki Hajar Dewantara dengan semboyan Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani, di depan jadi teladan, di tengah sumber ide dan gagasan, di belakang mendorong motivasi. Sedangkan Budi Utomo adalah pergerakan untuk Indonesia, karena setelahnya muncul banyak organisasi pergerakan nasional melawan Belanda.
Hardiknas dan Harkitnas adalah peringatan untuk orang terdidik yang bangkit demi bangsa. Isinya adalah orang-orang pintar terpelajar yang masih mampu berjuang sekuat tenaga bersekolah dan kuliah di tengah kesulitan dan keterbatasan masa penjajahan.
"Dalam masa penjajahan pendidikan bisa mengangkat martabat bangsa untuk bangkit, apatah lagi di masa kemerdekaan ini, pendidikan seturutnya mampu membuat loncat bahkan terbang (seperti harapan Prof Habiebie) menuju kegemilangan negeri".
*dalam mozaiq literasi bangsa ini sekarang ada yang disebut Harpitnas, Hari Kejepit Nasional, dimana pada saat ada libut umum hari Kamis, maka biasanya akan dilanjutkan ke Jumat yang terjepit minggu itu, sehingga bersambung ke Sabtu-Minggu yang memang libur karena Indonesia menganut 5 hari kerja, walhasil terjadilah libur long weekend Kamis-Minggu secara Nasional, ini menghambat kemajuan kebangkitan bangsa, terlalu banyak libur. Sekolah tempat Salma belajar Masmi tidak mengenal hari Kejepit, tetap sekolah Jum'at meski Kamisnya tanggal merah.




0 komentar:
Posting Komentar