Oleh : Darwin Nasution
Tatkala itu Rasulullah bertemu Saad bin Mu’az, ketika bersalaman beliau merasakan telapak tangan Mu’az yang kasar. Kemudian beliau bertanya apakah sebabnya, Mu’az menjawab “saya membajak tanah untuk keluarga ya Rasulullah”. Mendengar jawaban itu Rasulullah mencium tangan Mu’az dan berkata “tangan ini tak akan disentuh api neraka”.
Itulah petikan ucapan Saad bin Muaz yang mencerminkan ishomi, manusia yang berbangga atas kerja keras sendiri. Tidak mengeluh dan memelas meminta-minta pada orang lain. Bahkan lebih kepada bertawakkal atas hasil yang diperoleh dari kerja kerasnya memenuhi kebutuhan keluarganya. Sampai-sampai orang termulia yang pernah ada Nabi kita Muhammad SAW memberi garansi pada orang yang mandiri dan bekerja keras ini, bahwa tangannya tidak akan disentuh api neraka. Subhanallah. Dalam hadits lain disebutkan orang yang mandiri dan bekerja keras itu luruh dosanya dengan sendirinya. "Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah". (HR. Ath-Thabrani)
Lawan kata dari istilah ishomi adalah idhomi. Manusia yang berbangga sebagai pewaris ayah yang masyhur, teman yang sohor, kerabat yang famous, ataupun nenek moyang yang mempunyai sejarah yang gemilang. Orang Arab mengamsalkan orang seperti ini dengan, "laisal fata man yaqulu kana abiy, walakinna alfata man yaqulu, ha ana dza". "Bukan ksatria orang yang mengatakan ituh tuh (bapak, paman, lae, opung ku) itu karena berbagai kelebihan mereka, melainkan ksatria yang berkata ini dada ku". Tentu dalam pengertian yang positif, berbangga bisa mandiri karena mendapat rizki yang diridhoi oleh Allah SWT tanpa sifat ria. Kerja keras tiada henti, dan menyerahkan urusan berhasil tidaknya sepenuhnya begitu mulai kepadaNya.
Barangkali sangat jamak kita menemukan golongan kedua ini dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini. Budaya materialisme menyebabkan orang mengambil jalan pintas untuk mendapat simpati atau mendapat sesuatu dengan menjual nama orang terkenal dari kalangan kerabat maupun teman. Bahkan mengintimidasi orang untuk kepentingan sendiri dengan itu. "Jangan main-main dengan saya atas bisnis itu, karena penguasa pengaturannya di kota ini teman gue", begitu kilahnya memuluskan urusannya. Atau sekedar membonceng untuk pamer,"Kepala BUMN itu teman sekelas saya waktu SR". Padahal mungkin temannya itu sudah tak ingat pula padanya. Jadi tidak baik mengandalkan orang lain dalam hal apapun, karena itu tidak gentle, yang gentle yang berkata sekali lagi ha ana dza, ini dadaku...mana dadamu. Jangan pasang dada orang lain untuk membusungkan dadamu, itu jauh dari kstaria.
telah tayang di FB Des 13



0 komentar:
Posting Komentar