PULANG KAMPUNG VS MUDIK
Oleh : Darwin Nasution
Ramai dibicarakan akhir-akhir ini istilah pulang kampung dan mudik. Para pihak banyak yang ikut urun omongan menyampaikan dua hal ini sebagai entitas yg beda, sehingga seolah-olah memunculkan pengertian ambigu di masyarakat. Sebenarnya bagaimana kira-kira penjelasannya dalam sudut pandang antropologi bahasa.
Ada sebetulnya makna yang tidak kelihatan dalam istilah ini. Frasa kampung masih tersirat di ujungnya halaman. Kampung halaman. Dimana yang pulang ke kampung ini ada tempat yang dia tuju. Apa itu, halaman. Terkandung makna bagian dari rumah di depan atau belakang yang belum terisi bangunan. Dan itu adalah milik seseorang, yang diakui oleh orang-orang di kampung sebagai tetangga, maupun juga oleh pemerintah kampung (desa). Jadi yang pulang itu, dapat dipastikan misalnya, dalam konsep mandailing, adalah yang punya rumah dan halaman (parbagasan) tempat lahir di sana, yang turun-temurun menunjuk pada keluarga tertentu. Istilah umumnya parbagasan pusako (tanah tapak rumah pusaka), itulah yang disebut memiliki kampung. Mereka pulang menuju kampung yg secara psikologis merasa dimiliki. Jadi kemanapun orang pulang seperti ke Jawa, Sumatera, Sulawesi, dst adalah menuju kampung tempat lahir masing-masing, tidak ke rumahnya khas, paling tidak ke rumah bapak atau pusaka bapaknya.
Mudik
Makna sederhananya 'menuju udik'. Apa itu udik, adalah lawan kata ilir. Menurut Kamus Bahasa Sunda, udik adalah sirah cai atau hulu cai, kepala air. Dari mana asal air atau kali atau sungai. Contoh di Kecamatan Ciampea ada desa Cihideung Udik dan Cihideung Ilir. Nama Kali sumber air yg melewati dua desa ini adalah Kali Cihideung. Yang Cihideung Udik ada di atas, di kaki G.Salak. Cihideung Ilir sudah merupakan ekor kali yg mendekati muara. Bermuara di Kali Cisadane, tak jauh dari Cihideung Ilir. Orang-orang yang di Ilir yang menuju Udik itulah makna sebenarnya mudik. Makna ilir udik atau hilir mudik belakangan meluas jadi bolak-balik, kadie kaditu, kesana kemari.
Mudik juga sering diliterasi dari kata “udik” yang berati kampung atau jauh dari kota.
Entah sejak kapan tradisi mudik pulang kampung di Indonesia dimulai. Namun menurut budayawan Jacob Soemardjo (2012), mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah mengenal tradisi ini jauh sebelum berdiri Kerajaan Majapahit untuk membersihkan pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan untuk memohon keselamatan kampung halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Kebiasaan membersihkan dan berdoa bersama di pekuburan sanak keluarga sewaktu pulang kampung sampai saat ini masih banyak ditemukan di daerah Jawa dan Sumatera. Pulang… pulang … pulang… Ini yang indahnya tiada duanya di muka bumi, yang paling ditunggu-tunggu keluarga, khas keluarga Indonesia. Menjelang lebaran mesti mudik. Terasa asyiknya kumpul bersama keluarga. Mudik tidak ada di negara lain. Apapun dikorbankan demi mudik, walaupun datang ke kampung kadang-kadang apes tinggal nama, meninggal akibat kecelakaan di perjalanan.



0 komentar:
Posting Komentar