Home » » HUJAN DAN HARAP*

HUJAN DAN HARAP*

 

HUJAN DAN HARAP

Oleh : Darwin Nasution

Di Kamis pagi sesampai di sekolah setelah didera hujan di jalan. Gerimis tetap menitik halus. Sepertinya stok uap air yang siap tabur dari atmosfer masih tersedia. Alam serasa bermuram durja. Sendu...

Sesendu kami para guru menanti siswa yang akan datang ke sekolah. Mereka lebih banyak atau nyaris semua tak muncul di ruangan-ruangan kelas.

Hanya seorang yang telah duduk manis di kelasnya. Refah anak XI IPS. Dia menunggu guru PJOK, sang guru karena hujan juga mungkin tidak nongol di sekolah. Ketika menyapa Refah, apa ada tulisan, seperti yang lalu sering ada reserve tulisan dari siswa yang doyan menulis ini, Refah menjawab lirih, “Belum ada pak”.



Hujan di luar, merayap, merambat, mengecil pelan semburat seperti kapas dirangkai. Kami menatap ke luar, nelangsa tetap sedih, karena hari ini tidak tatap muka belajar mengajar dengan siswa. Kami ada, mereka tiada di kelasnya.

Kelas X IPS rencana hari ini tatap muka pertama mata pelajaran Sejarah Umum pasca lebaran. Mau belajar tema Kebudayaan Lembah Sungai Indus, negeri Hindi. Mohenyodaro dan Harappa.

Kekinian, terkenal dengan nyanyian mendayu-dayu menari-menari di alam terbuka, di taman, di padang luas, di bawah pohon rimbun dan atau pinggiran pantai. Kisah layar lebarnya jamak selalu tentang cinta. Pemeran populer di tahun-tahun agak jauh ke belakang ada Amitabh Bachan, Mithun Chakraborty, Hema Malini ataupun Aruna Irani.

Start film biasanya dimulai kehidupan nestapa sang aktor utama. Berjuang keras, penuh liku, tantangan dan cobaan, pun hinaan, tapi pribadi sang pemeran tahan banting. Disupport sang gadis pencinta, berakhir bahagia. Happy ending, nyaris tak pernah sad ending.

Ada yang berpendapat, terutama para antropolog dan sosiolog, cerita orang miskin sukses di berbagai seni peran di India adalah sesuatu yang struktural fungsional. Genre berurai air mata lalu bahagia bakal dipiara dan disokong oleh negara. Kenapa ?

Itu adalah rehat sosial masyarakat Hindi dari penat himpitan ekonomi yang miris di sana. Dengan adanya tontonan penuh cinta bahkan bucin, full perjuangan mendarat bahagia, masyarakat dicekoki harapan sukses, meski di alam nyata kehidupan tak selalu jadi kenyataan. Setidaknya ada harapan besar meski semu.

Hujan di luar mulai reda. Pepohonan di pekarangan sekolah mungkin telah tertawa, akar dan batangnya mendapat asupan, untuk memekarkan seluruh raganya. Bahagia...

Kami guru juga mesti bahagia. Masih ada hari esok pengharapan, walau hari ini dengan sebagian besar siswa tak jumpa. Setidaknya kami datang, gugur kewajiban pembelajar. Tetap saja rada perih membayangkan siswa kalau ditanya kenapa tidak datang, seribu alasan yang terpampang.

Nian doa semoga berubah. Seribu tantangan yang siap di-challenges oleh mereka, sekuat pohon yang telah menyerap energi dari hujan pagi ini. Allohumma shoiban naafian.


*duduk di meja guru kelas XI, ada Refah di hadapan, 20 menit naskah tulisan ini selesai. Aamiin semoga senantiasa diberi energi menulis.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger