Home » » MESJID, JANTUNGNYA MASYARAKAT (Qolbun Mujtama')

MESJID, JANTUNGNYA MASYARAKAT (Qolbun Mujtama')

 

MESJID, JANTUNGNYA MASYARAKAT (Qolbun Mujtama’)

Oleh : Darwin Nasution

Ada perbedaan pendapat di masyarakat—polemik bahkan konflik—terkadang tentang boleh tidaknya membawa anak-anak kecil ke mesjid. Secara umum mempermasalahkan tidak tertib atau berisiknya anak-anak ketika di mesjid. Apalagi secara naluriah anak-anak akan langsung main ketika bertemu dengan teman sebayanya.

Di sisi lain, sebagian kalangan dewasa jamaah masjid tidak mempersoalkan, karena ada anggapan yang kuat anak-anak yang dibawa di masa kecilnya yang akan memakmurkan mesjid di masa dewasanya nanti. Kalau ditegur, dimarahi, bahkan dilarang sehingga menimbulkan ketakutan sampai antipati ke jamaah atau petugas mesjid, bagaimana nanti mesjid akan ramai atau makmur, kalau generasi yang akan memakmurkan pada gilirannya sudah tak mau ke mesjid. Bisa-bisa kemudian mesjid hanya akan diisi oleh orang-orang tua saja, orang yang sudah bau bahan pembentuknya, bau tanah.

Sesungguhnya bagaimana positioning mesjid untuk masyarakat termasuk anak-anak? Narasi-narasi shirah bahwa mesjid adalah qolbun mujtama’ (jantung masyarakat) itu benar adanya. Jangan dibatasi mesjid hanya tempat ibadah shalat. Di luar waktu shalat mesjid dikunci, sebagaimana sering kita saksikan pada banyak mesjid kekinian. Mari ikuti cerita multifungsi mesjid ini.

Nabi Muhammad SAW dalam salah satu sujudnya sebagai imam pada waktu itu durasinya sangat lama. Benar-benar lebih lama dari biasanya. Apa yang terjadi sehingga sujud tersebut tidak seperti biasanya? Ternyata Hasan dan Husein bergantian naik ke punggung dan pundak nabi. Sampai betul-betul aman atau tidak membahayakan cucunya barulah nabi bergerak bangkit dari sujud. Pada saat yang lain pernah juga nabi posisi berdiri sedang menggendong salah satu cucunya saat sedang mengimami shalat. Tak pernah ada kabar nabi mencela hal tersebut, bahkan beliau membiarkannya, itu berarti bukan suatu kemungkaran.



Narasi perjuangan Nabi bersama sahabat ada yang terjadi di mesjid. Suatu ketika Saad bin Muaz terluka dalam peperangan. Beliau dibawa oleh sahabat ke mesjid yang paling dekat dengan lokasi perang untuk dirawat. Padahal kita sama-sama tahu orang yang luka perang membawa najis. Tapi itu tidak masalah, ceuk nabi mah eta bisa dibersihkan. Segampang jawaban nabi bahwa Badui yang kencing di masjid karena ketidaktahuannya, tinggal disiram saja, padahal saat itu para sahabat sudah naik pitam atas tingkah Badui tersebut.

Pada masa pemerintahan Nabi di Madinah, beliau juga memperbolehkan mesjid Nabawi sebagai tempat isitirahat. Di sana disediakan pojok untuk suffah atau istirahat, sehingga yang menggunakannya disebut dengan ahlus suffah, Abu Hurairah contohnya. Mereka menggunakannya selayaknya aktivitas rumah seperti tidur, makan, memasak, dll tapi tentu dengan menjaga kebersihan, sehingga tempat tersebut tidak terkontaminasi hadats.

Ketika ada serombongan sahabat yang hijrah ke Habasyah, di sana mereka sudah sempat memiliki mesjid tempat beribadah. Tapi di samping beribadah karena masa-masa itu adalah waktu-waktu sampainya pesan perjuangan. Pesan bahwa suatu ketika akan ada peperangan melawan orang kapir dalam rangka dakwah Islam. Para sahabat kala itu menggunakan mesjid sebagai tempat latihan ketangkasan perang main tombak dan pedang.

Demikian banyak cerita tentang banyaknya kegiatan yang dilakukan di mesjid. Anak-anak shalat di mesjid kadang gandeng, eta wayahna, ulah dicarekan. Bahkan ketika kedengaran ada bayi menangis yang dibawa seorang ibu ke mesjid, barangkali tarawehan, atau ibu tersebut lagi musafir, seorang imam disunnahkan mempercepat shalatnya, supaya si ibu segera bisa menenangkan bayinya.

Untuk kepentingan yang lebih luas bisa juga ada lembaga pendidikan berbasis mesjid di sana seperti TPA, MI, Mts, MA ataupun Lembaga Dakwah. Bahwa sampai merencanakan strategi perang sekalipun boleh dilakukan di sana, seperti Nabi contohkan di masjid Nabawi Madinatul Munawwaroh

Dari sekian banyak narasi di atas, diantaranya membawa anak-anak kecil di mesjid itu boleh, bukan suatu kemungkaran tetapi alangkah baiknya disosialisasikan pada anak dengan baik adab di masjid sehingga tidak merusak ibadah shalat jamaah. Atau kisah merawat yang sakit di mesjid, tempat istirahat, tempat latihan dan merencanakan strategi perang dsb, menunjukkan peran mesjid merupakan sebagian denyut jantung aktivitas masyarakat.

 


0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger