Oleh : Darwin Nasution
Semula iseng saja bapak kembali ke kelas kalian. Kelas
pamungkas XII. Yang masih bisa dihitung dengan jari kelas itu kalian
tinggalkan. Sampai di sudut laci meja ditemukan kertas berukir kata, ditulis
dengan dawat merah dan ada gambar kembang, merah pula.
Setelah membaca detil kumpulan kata di lima tempat di
secarik kertas itu seperti puisi bentuknya, tapi perih isinya. Sedih, nestapa,
dikarenakan kehilangan seseorang, seseorang penyuplai kasih sayang, ekonomi dan
harga diri seorang anak, terutama putri, itulah ayah. Hilang rupanya di nandaku
Bila--Nabila Zahra lengkapnya--sekian lama, bapak baru tahu. Maafkan, bapak gagal memahami Bila selama
ini.
Nak Bila, izinkan bapak berurai pengetahuan tentang
anak sepertimu, fatherless. Nanda bapak perhatikan selama 8 bulan kebersamaan
belajar di mapel bapak, cenderung mengalami gangguan emosi seperti
depresi, kecemasan, dan kesulitan dalam mengontrol emosi terhadap teman. Mungkin
kondisi ini terjadi karena adanya perasaan kehilangan, kesepian, dan
ketidakamanan yang nanda rasakan.
Nanda yang tidak
memiliki figur ayah dalam hidup ini mungkin sering kali mengalami masalah dalam
perkembangan sosial. Mungkin menjadi sulit untuk diatur, tidak taat aturan, dan
cenderung terlibat dalam perilaku merugikan diri sendiri seperti bolos sekolah
dan kurang patuh pada orang tua.
Nanda, bapak maklum tanpa ayah nandaku akan merasa
sulit, tidak selalu mendapatkan rasa saling menghargai dari orang lain. Hal ini dapat
mengakibatkan menurunnya tingkat kepercayaan dan ketidakpercayaan diri, pada
kemampuan diri sendiri.
Bila, tidak memiliki sosok ayah cenderung mengalami
kesulitan dalam membangun hubungan sosial dengan orang lain, begitu ceuk para
pakar, sedikit banyak terjadi pada nanda. Mereka merasa tidak mendapatkan
kepercayaan atau sulit untuk menunjukkan perhatian kepada orang lain. Hal ini
dapat menyebabkan kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya atau mungkin
pasangan di masa depan.
Ada lagi pandangan nak, tidak memiliki figur ayah
cenderung mengalami dukungan sosial dan finansial yang kurang. Ayah yang menjadi
sumber penghasilan utama dalam keluarga, dan ketika mereka tidak hadir, bisa
membuat situasi keuangan keluarga menjadi sulit. Bahkan ibu dan anggota keluarga lain (anak-anak) harus bekerja lebih di luar rumah.
Selain itu kata mereka, anak dengan kondisi fatherless
dapat merasa kekurangan dukungan emosional dan bantuan praktis dari sosok
seorang ayah. Bapak berusaha memahami itu kini, berusaha mengerti situasi yang
terjadi, memberikan dukungan emosional saat di sekolah dulu, menjadi sosok
panutan positif, dan mengajak Bila di setiap kegiatan di sekolah, dan bu Walas juga kelihatannya selalu berupaya berbicara dengan Bila dan ibu di rumah, berupaya
memberi dukungan.
Perihal cocok tidaknya anggapan di atas mari kita ikuti
lagi guratan perasaan Nanda di kertas itu.
“tidak ada kata lelah
untuk jiwa tanpa
peran seorang ayah”
“jadilah orang yang selalu
bahagia di hadapan
manusia. Walaupun
hatimu menyimpan
banyak sedih dan duka”
“Jadilah kuat untuk segala hal
yang membuatmu patah
it’s okey, just say it
berdamailah dengan hal
yang gabisa kita ubah,
karna ikhlas selalu
menjadi ending terbaik
“Jika harimu tidak baik-baik saja”
ada saatnya kamu merasa gembira
sampai-sampai ingin sekali menceritakan
semuanya pada dunia. namun ada saatnya
kamu merasa sebaliknya. sampai-sampai
ingin sekali, ingin bersembunyi di dalam
ruangan gelap dan menangis sepuasnya.
Cukup sudah larik deritamu nakku, kami berupaya
mengerti. Mendung tak selamanya kelabu, hidup tak selalu pilu.Sengsara Membawa
Nikmat tulis Sutan Sati, Habis Gelap Terbitlah Terang kata Kartini.Don’t
hopeless, be strong and success !
*maafkan nak kalau sampai keadaanmu terguarat di halaman ini.





0 komentar:
Posting Komentar