Home » » SUPPORTER YANG BAIK*

SUPPORTER YANG BAIK*

 Oleh : Darwin Nasution

Suporter kurang lebih berarti orang yang memberikan dukungan, sokongan semangat positif dalam pertandingan. Menurut arti tersebut keberadaan suporter penting dalam menyemarakkan suatu pertandingan. Dalam sepakbola, suporter sering disebut sebagai pemain keduabelas. Meski tidak diperkenankan ikut bermain di lapangan, sorak-sorai dan gemuruh yang cetar membahana mampu membangkitkan gairah berjuang sebelas pemain di lapangan. Sebaliknya, bagi tim lawan gempita dukungan itu bisa memecah konsentrasi bertanding. Sebutlah kelompok suporter elit di luar negeri misalnya Red Army, Juventini, Madridista, ataupun yang lokal seperti Viking, Jakmania, Kabomania dll.


Menurut hemat saya menjadi supporter termasuk fanatik sekalipun tidak masalah selama itu masih dalam taraf kewajaran. Yang disayangkan adalah ketika suporter mendukung secara berlebihan bahkan membabi buta. Menghalalkan melakukan apa saja demi mendukung klub walaupun harus melanggar hukum dan norma sekalipun. Atas nama fanatisme ada yang menumpang atap kereta tanpa membayar karcis. Masuk stadion secara illegal tanpa tiket dll. Yang ironis ketika terjadi friksi antar supporter, seperti sering terjadi di jalanan antara The Viking (suporter Persib) dengan The Jakmania (suporter Persija).


Mengunggulkan tim yang didukung suatu kewajaran, yang tak wajar adalah ketika mengolok-olok suporter tim lain dengan kata-kata kasar. Ada pula yang saling hina dengan kata-kata melecehkan. Pada satu titik bahkan terjadi bentrok antara satu suporter dengan suporter lain, bahkan antara suporter dengan warga. Bisa jadi sumber masalahnya hanya sepele, seperti saling berbalas yel-yel. Lama kelamaan saling ejek, timbullah amarah, dan meledaklah kericuhan. Ujungnya menghasilkan kerusakan fasilitas, korban luka, bahkan korban kematian. Itu kerugian besar, tidak smart, tidak bisa menerima kekalahan dan sebagainya.



Hal-hal buruk semacam itu tentu saja harus dilenyapkan supaya bisa disebut suporter yang pintar. Sudah saatnya kita belajar untuk menjadi suporter yang baik. Mendukung tim dengan sehat, kekalahan dimaklumi sebagai kekurangan managemen tim.Bukan sebaliknya malah menganggap tim sangat sempurna, pantang mengalami kekalahan dan tak boleh dikritik oleh suporter lain halus atau sarkastik. Mari, malah belajarlah dari kekalahan, menjadi suporter yang baik yang mampu memberikan masukan buat tim yang didukung, sehingga tampil lebih baik untuk selanjutnya.


Penulis ingin menarik issu ini kepada perhelatan pilpres yang lalu. Pertandingannya sudah dilakukan dengan tenang pada 9 Juli 2014 lalu, dan telah dikukuhkan hasilnya pada 22 Juli 2014 kira-kira dua minggu kemudian dengan kemenangan sementara tim Jokowi. Tim Prabowo interim menderita kekalahan tipis dalam persenan, tapi jutaan dalam kuantitas suara. Ada dugaan kecurangan dalam pertandingan itu sehingga masalah kekalahan itu dibawa ke semacam arbitrase olahraga tapi ini namanya MK atau Mahkamah Konstusi. Sampai disini sebetulnya tidak ada masalah, artinya pengaduan tentang kekalahan masih digodok, dipelajari, dan diverifikasi apakah betul merupakan kesalahan penyelenggara pertandingan. Cuma, yang menyisakan persoalan adalah pendukung kedua kubu sepertinya belum mampu menjadi supoter yang baik.


Saling perang salam 1jari dan 2 jari, adu joss logo dalam ucapan garuda dan banteng dengan segala konsepsi mengenai itu, adu argumen tentang latar belakang Capres-Cawapres, dan seterusnya sudah mengarah kepada menyerang pribadi suporter pendukung yang bisa memantik api pada satu titik. Keadaan memanas dalam diskusi terbuka di warung kopi, di kampus, diseret lagi ke FB, Twitter, televisi, dan media lainnya. Ada perang omongan kasar di grup-grup FB padahal sejatinya mereka satu visi dan misi saat masuk grup itu, jadi terpolarisasi karena pilpres.


Smartlah wahai suporter menghadapi kemenangan dan kekalahan. Berempatilah bolak balik, coba tempatkan diri pada kedua kubu sehingga mampu mengkontruksi perasaan bagaimana sesungguhnya bersikap. Jangan masalah kenegaraan yang sebetulnya sudah ada yang mengurusnya di atas, kita sebagai warga gontok-gontokan di bawah. Tidak ada untungnya mengusung fanatisme berlebihan itu jika sampai kontra produktif, misalnya paling sedikit kita telah menyakiti warga lain. Bukankah sesama warganegara siapapun pemimpinnya pada akhirnya hidupnya pasti must go on. Kita kembali ke kehidupan bermasyarakat yang diharapkan tidak apathis karena dendam pilpres.


Kepada suporter kedua kubu, mari memahami persoalan dengan dalam dan pintar. Apapun hasilnya dunia kita mesti terus diputar. Kehidupan alamiah kita sebagai apa saja akan kembali kita jalani, dan diharapkan di sanalah kita berprestasi, yang pada gilirannyaitu akan membantu tugas pemerintah yang mana saja yang memimpin. Jangan mau jadi suporter tumbal, “gajah bertarung sama gajah pelanduk mati di tengah-tengah”. Titilah kembali kehidupan setelah masalah pesta ini usai, itu pertanda anda suporter yang baik.



*telah tayang di FB Agustus 2014

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger