Oleh : Darwin Nasution
Saya kembali teringat seorang mahasiswa post doctoral dari Belanda, Martjanka namanya, berinteraksi dengan saya sekian lama di Bogor. Cewek bujangan itu mengontrak rumah bersama koleganya untuk kepentingan penelitian jangka panjang air susu ibu (ASI) sekitar 3 tahunan (1998-2000) di bilangan Karacak Leuwiliang Bogor. Intelektual yang sejak awal memproklamirkan diri ke kita sebagai seorang atheis. Tidak mengakui keberadaan Yang Maha Pencipta, seolah dunia ini hanya material biasa.
Namun pada suatu hari di tahun 1999 dia mendapat telepon dari keluarganya di Belanda di siang hari sedang asyik mengutak-atik data penelitian di rumah kontrakan, bahwa ayahnya mendadak baal masuk UGD karena serangan jantung. Selesai terima telepon dia berujar "Oh My God, help my father". Oh my God diucapkan lebih kencang sehingga mengagetkan mahasiswa-mahasiswa Indonesia enumerator pencari data di ruangan itu. "God yang mana Martjanka?", tanya salah seorang di antaranya dalam bahasa Indonesia karena dia juga mahir. "Tidak tahu, pokoknya ayah saya butuh bantuannya", katanya lirih. Nah lho, katanya atheis mengapa baal atau kematian sekalipun mesti dipermasalahkan. Bukankah kalau dianggap materi, sejarahnya akan kembali jadi materi. Ternyata di saat seperti itulah manusia di seantero jagad ini tidak bisa berbohong, bahwa dalam dirinya ada gharizah tadayyun (naluri mensucikan sesuatu Yang Maha Menguasai hidup). Tanpa sadar Martjanka membantah sendiri teori historical materialism yang dia dengungkan. Jauh di seberang sono dahulu di negeri Stalin Rusia juga mungkin terjadi fenomena yang bermakna sama. Ketika Stalin meninggal kenapa masih harus ada sesi upacara, hening cipta berisi doa, padahal dibuang saja ke laut, toh itu materi an sich seperti sering disampaikan Stalin semasa hidup. Sekali lagi manusia tidak bisa menipu dirinya, semua memiliki titik iman dalam hatinya.
Dalam kitab Nidzomul Islam, disebutkan hal di atas bukti bahwa segala sesuatu memastikan adanya Pencipta yang menciptakannya dapat diterangkan sebagai berikut: bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal terbagi dalam tiga unsur, yaitu manusia, alam semesta, dan hidup. Ketiga unsur ini bersifat terbatas, lemah, serba kurang, dan saling memerlukan satu dengan yang lain. Misalnya manusia. Manusia terbatas sifatnya, karena ia tumbuh dan berkembang sampai pada batas tertentu yang tidak dapat dilampuinya lagi. Jadi, amat jelas bahwa manusia bersifat terbatas. Begitu pula halnya dengan hidup, bersifat terbatas, karena penampakannya bersifat individual. Apa yang kita saksikan selalu menunjukkan bahwa hidup ini berakhir pada satu individu saja. Dengan demikian, jelas bahwa hidup itu bersifat terbatas. Alam semesta pun demikian, memiliki sifat terbatas. Sebab, alam semesta merupakan kumpulan dari benda-benda angkasa, yang setiap bendanya memiliki keterbatasan. Sementara kumpulan segala sesuatu yang terbatas, tentu terbatas pula sifatnya. Jadi, alam semesta pun bersifat terbatas. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa manusia, hidup, dan alam semesta, ketiganya bersifat terbatas.
Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas, akan kita simpulkan bahwa semuanya tidak azali. Sebab bila bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), tentu tidak mempunyai keterbatasan. Dengan demikian jelaslah bahwa segala yang terbatas pasti diciptakan oleh ''sesuatu yang lain''. ''Sesuatu yang lain'' inilah yang disebut Al-Khaliq. Dialah yang menciptakan manusia, hidup, dan alam semesta.
Dalam menentukan keberadaan Pencipta ini akan kita dapati tiga kemungkinan. Pertama, Ia diciptakan oleh yang lain. Kedua, Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Ketiga, Ia bersifat azali dan wajibul wujud. Kemungkinan pertama bahwa Ia diciptakan oleh yang lain adalah kemungkinan yang bathil, tidak dapat diterima oleh akal. Karena, bila benar demikian, tentu Ia jadi mahluk yang bersifat terbatas. Begitu pula dengan kemungkinan kedua, yang menyatakan bahwa Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Jika memang demikian berarti Dia sebagai makhluk dan Khaliq pada saat yang bersamaan. Suatu perkara yang jelas-jelas tidak dapat diterima. Oleh karena itu, Al-Khaliq harus bersifat azali dan wajibul wujud. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya siapa saja yang mempunyai akal akan mampu membuktikan --hanya dengan adanya benda-benda yang dapat diindera-- bahwa di balik benda-benda itu pasti terdapat Pencipta yang telah menciptakannya. Sebab, kenyataan menunjukkan bahwa semua benda itu bersifat serba kurang, sangat lemah, dan saling memerlukan. Ini saja sudah menunjukkan segala sesuatu yang ada hanyalah makhluk. Jadi untuk membuktikan adanya Al-Khaliq Yang Maha Pengatur, sebenarnya cukup hanya dengan mengarahkan perhatian manusia terhadap benda-benda yang ada di alam semesta, fenomena hidup, dan diri manusia sendiri. Dengan mengamati salah satu planet yang ada di alam semesta, atau dengan merenungi fenomena hidup, atau meneliti salah satu bagian dari diri manusia, akan kita dapati bukti nyata dan meyakinkan akan adanya (wujudnya) Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di dalam Al-Quran, kita jumpai ajakan untuk mengarahkan perhatian manusia terhadap benda-benda yang ada, seraya mengajak untuk turut mengamati dan memfokuskan perhatian terhadap benda-benda tersebut serta segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, atau yang berhubungan dengannya, dalam rangka pembuktian adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan mengamati benda-benda tadi, bagaimana satu dengan yang lainnya saling memerlukan, akan memberikan suatu pemahaman yang meyakinkan dan pasti tentang keberadaan Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Pengatur. Sehingga sang peneliti post doctoral "atheis" yang sedikit angkuh itu juga mengakuinya, Oh My God...
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Al Qur'an surat Âl-´Imrân ayat 190)
*telah tayang di FB Feb 2014



0 komentar:
Posting Komentar