Home » » MENYALAHKAN ORANG LAIN

MENYALAHKAN ORANG LAIN

 


MENYALAHKAN ORANG LAIN

Oleh : Darwin Nasution

 

Terapis kognitif AS bernama David D. Burns (2006) diceritakan dalam buku Feeling Good pernah melakukan serangkaian penelitian tentang distorsi kognitif. Pendapatnya dikutip oleh Octavia  Pramono ke dalam buku gubahannya Mendamaikan Konflik Batin (2022). Distorsi kognitif Burns adalah pola berpikir yang keliru sehingga dapat menyebabkan tekanan psikologis. Salah satu bentuk distorsi kognitif adalah, 1. personalization atau tindakan menyalahkan diri sendiri atas banyak hal yang tidak terjadi sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Namun di sisi lain, distorsi ini juga dapat berbalik dan membuat kita cenderung mudah 2. menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Hal yang nomor 2 akan diuraikan secara sederhana dalam artikel ini. Mengapa sering yang paling praktis menyalahkan orang lain,

 

Pertama, Menyalahkan Orang Lain Itu Mudah.

Ketika berada dalam kondisi yang tidak nyaman, menyalahkan orang lain adalah cara termudah yang dapat dilakukan untuk terbebas dari rasa tidak nyaman tersebut. Dengan menyalahkan  orang lain, seolah-olah membuat beban yang harus ditanggung psikis seseorang menjadi berkurang atau bahkan lenyap begitu saja. Misalkan ketika sedang dalam satu acara sekolah, telah ditugaskan seseorang untuk mendokumentasi kegiatan. Sementara anda juga berada di lokasi acara. Oleh karena satu dan lain hal, ternyata koordinator kegiatan belum bisa mendelegasikan tugas dokumentasi dimaksud dengan tepat, sehingga petugas lapangan tidak bekerja efektif. Dalam pengertian singkat foto, audio, ataupun video tidak didapatkan dengan baik dan sempurna. Bahkan ada yang konten kosong misalnya, padahal konten ini mungkin anda butuhkan untuk sekolah. Kemudian serta merta anda menyalahkan koordinator kegiatan karena kegagalan tersebut. Padahal anda juga berada di situ, dan dapat men-take-nya dengan mudah sebagai opsi cadangan. Tapi libido menyalahkan orang lain itu menurut Burns muncul sekonyong-konyong untuk menyamankan diri sendiri, alih-alih memahami bahwa hal tersebut adalah human imperfection ataupun nobody perfect, terkecuali memang dalam diri bersemayam saya man or woman whith accomplished, atau bahasa santrinya ana khoirum minhu.

 

Kedua, Menghindari Rasa Bersalah 

Saat kita gagal mendapakan sesuatu, normalnya kita akan diliputi serangkaian perasaan tak nyaman. Namun ketika kita melimpahkan kesalahan pada orang lain dan membuat kita tidak perlu mengemban tanggung jawab apapun, maka perasaan bersalah pun akan berkurang dan menyebabkan kita pada akhirnya akan turut meyakini bahwa kita memang tidak bersalah. Yang salah yang belum bisa melaksanakan tugas, walaupun pada dasarnya bisa dikatakan saya bisa membantunya. 

 

Ketiga, Melindungi Ego Menyalahkan 

Menyalahkan seseorang akan membuat kita seolah merasa lebih tinggi dan superior. Tindakan itu juga  membuat kita merasa berada di posisi orang “baik” sementara orang yang kita salahkan adalah tokoh antagonis yang “buruk”. Beberapa orang juga menyalahkan orang lain sebagai ajang untuk menjadikan diri sendiri agar terlihat sebagai penyintas dan mendapatkan simpati dari orang lain, belum mendapatkan sesuatu yang diinginkan saat mendelegasikan tugas. 

 

Keempat, Diliputi Emosi Negatif 

Ketika dalam kondisi kesulitan atau merasa tak nyaman, kita akan mudah untuk diliputi emosi negatif dengan intensitas yang sedang sampai tinggi. Emosi negatif ini menghalangi kita untuk berpikir jernih, sehingga membuat kita kesulitan memandang sebuah permasalahan secara objektif. Akhirnya, kita memilih menjadikan orang lain sebagai kambing hitam untuk sesaat,padahal kita juga tidak sempurna. Dengan alasan-alasan tersebut, menyalahkan orang lain memang dapat membuat kita terbebas untuk sementara waktu. Namun apabila kebiasaan ini diteruskan, maka akan berdampak buruk pada perkembangan kepribadian kita, serta berpotensi untuk menghancurkan hubungan yang kita miliki dengan orang-orang sekitar. Oleh sebab itu, kebiasaan menyalahkan orang lain harus dihilangkan, berempati pada  posisinya. Yakinlah posisi menunjuk pakai telunjuk dengan satu jari itu sekaligus rebound tiga jari tengah, manis dan kelingking menunjukkan kelemahan anda.

 

Penutup

Sebagai penutup menurut Pramono, agar berhenti menyalahkan orang lain. Salah satu-nya ambil  jeda ketika sesuatu terjadi, jangan buru-buru untuk langsung mengeluarkan pernyataan atau argumen demi melindungi diri sendiri. Ambil napas panjang sambil menenangkan diri dan memikirkan baik-baik situasi apa yang sedang terjadi dan perasaan apa yang sedang meliputi, terutama rasa tak nyaman. Gunakan jeda tersebut untuk menilai situasi dan pilih respon yang tepat yang tidak merugikan siapapun. Bisa dipilih diam saja daripada menjapri di media sosial, membebani seseorang dengan kata-kata yang merendahkan. Keduaambil kesepahaman bahwa tak ada yang sempurna, setiap manusia selama hidupnya pasti pernah melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan. Anggap diri anda dan orang lain posisi pembelajar, bukan malaikat dengan segala kebaikan yang sudah given.







0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger