Oleh : Darwin Nasution
Sebetulnya saya sudah melaluinya di pagi hari 16/8/2014, tak jauh setelah melewati Psr Parung, perjalanan dari Alas Tua Pedurenan Gunung Sindur Kabupaten Bogor sampai mendekati perbatasan Tangerang Selatan. kurang lebih 200 meter setelah perbatasan, itulah tempat orang-orang pintar melakukan penelitian tekonologi, itulah PUSPITEK Serpong. Tapi dilematis, jalan dari puspitek sampai Tangerang relatif masih bagus, tapi itu tadi, sebelumnya mulai dari Gunung Sindur sampai kantor orang-orang pintar ini, Masya Allah, tinggal milih, mau menambatkan kerbau buat berkubang atau menaburkan benih lele yang diternakkan. Perjalanan yang hanya berjarak 27 km dari Parung itu paginya karena belum begitu macet masih harus butuh waktu 2 jam. Permasalahannya kenapa puspitek tidak mendorong penelitian teknologi yang mereka miliki untuk membangun jalan yang mumpuni sampai Bogor atau dimanapun di seluruh Indonesia. Bukankah di sana juga ada insinyur sipil yang mengerti persoalan ini, sehingga dapat dikolaborasikan dengan Departemen terkait, Departemen PU. Kenapa sebagai orang awam saya merasa keberadaan mereka di puspitek itu mubazzir saja, untuk teknologi jalan raya saja tidak mumpuni, persis berada mentok dengan bola mata mereka? Saya akan mulai lagi detil cerita kubangan ini dalam perjalanan pulang. Lebih terasa esensinya, makin human interest karena kebetulan saya duduk persis di samping supir bis 3/4 jurusan Tangerang- Parung itu.
Saya naik dari depan SPBU Total seberangan dengan Novotel Tangerang City. Begitu naik saya sudah merasakan bahwa bis Pusaka ini kalau di luar negeri sudah dipaksa dipenyetkan untuk kemudian dihancurkan oleh alat-alat berat. Sudah tidak laik jalan untuk ukuran sana, tapi masih fungsional bahkan lebih cocok mungkin untuk jalan di kubangan. Jalannya lambat, sudah tidak bisa melaju kencang, tapi buat apa memang laju kencang nanti di Km 17 sampai 25 yang dilalui adalah jalan ceruk yang kedalamannya bisa mencapai setengah meter. Setelah memenuhi seluruh bangku kosong 3 km dari tempat saya berangkat, tepatnya di Kebun Nanas, perjalanan pulang ke Parung dimulai.
Sang supir, sebutlah Pak Ujang, menceritakan dirinya adalah pensiunan Deptan bagian logistik, atau sopir juga setelah 38 tahun mengabdi di sana. Diberikan uang pensiunan waktu itu kurang lebih seratus juta, pada 2011 lalu beliau belikan bis PO Pusaka ini seharga 93 juta. Tapi katanya dari 2011 ke sini biaya perawatan bis ini sudah menghabiskan sedan dia seharga 5o jutaan. Tapi apa mau dikata, saya tidak menyesal katanya lirih, saya tidak bisa hanya menganggur saja di rumah setelah pensiun. Biarkan saja asal manjang dan ada pekerjaan saya tiap harinya. Kalaupun misalnya saya duduk manis menikmati uang pensiun itu, menganggur, barangkali akan habis juga katanya mantap. Sekarang kalau saya tidak ingin mencari penumpang atau narik saya simpan saja ini mobil di rumah, tak ada beban saya harus setor seperti yang lain. Kelihatan dari cara bawa mobil di medan berat seperti ini memang pengalaman mengemudi sangat menentukan. Jangankan supir, penumpang saja harus berjuang untuk duduk lurus dan enak karena tingginya frekuensi oleng kekiri, oleng ke kanan la la la...la la...la la.
Kembali seperti saya mulai tadi, perjalanan pulang sampai puspitek Serpong belum ada hambatan berarti. Meski agak lama durasinya sampai satu jam karena menaikkan dan menurunkan penumpang ngelaju kerja dari Bogor, diisi sampai penuh bahkan anginpun mungkin tidak lolos lagi. Bis berkapasitas 24 penumpang ini standar, bisa diisi sampai 50-60 orang pada jam-jam orang pulang seperti sore ini. Naik jam 15.00 dari Tangerang, tahukah pembaca sampai jam berapa ke Parung?
Langsung saja kita lanjutkan perjalanan dari puspitek sampai Parung, setelah melewati durasi 1 jam sebelumnya. Tidak kurang 10 titik kubangan yang harus dilalui di interval yang hanya 8 km sampai Gunung Sindur. Pak Ujang berkeringat jagung mengikuti olengan Pusaka tuanya menyusuri kubangan sambil sesekali harus menyusul mendahului truk pengangkut tanah volume 25 ton yang juga berlalu lalang di situ, di jalur itu. Memang banyak yang nyeletuk bahwa perusak jalan adalah truk itu. Masalahnya sebetulnya bukan di situ, perlu pembuatan jalan dengan teknologi tinggi yang berkekuatan menyangga truk-truk sebesar itu di atasnya. Toh, truk itu juga fungsional buat kabupaten Tangerang, berjasa mempercepat pengurukan infrastruktur yang sedang dbangun di kota-kota modern di sana. Tentulah kalau tidak berguna, masa kerja truk itu tidak akan diperlama oleh pemerintah. Saya juga berkeringat padi (maksudnya butirannya lebih kecil) dibanding supir, karena seringnya belahan pantat saya terlempar dari posisi di jok yang semestinya.
"Coba lihat pak", kata pak Ujang menunjuk oli kopling bagian atasnya tumpah pas dibawah tuas kopling. "Itu tinggal kekuatan penahan bawah aja di mesin sehingga kopling ini tidak berbahaya". katanya parau. Perjuangan membawa nyawa penumpang 50 jiwa di atas kubangan memang sepertinya juga rugi bawa mobil baru, maksudnya tidak lama kemudian akan bengek juga. Mending yang sudah bengek, tariannya selaras irama kubangan ke kiri ke kanan, bahkan kadang gerdang belakangnya nyangkut di tanah. Penumpang mengaduh, beristighfar lirih, takut mobil ini menumpahkan penumpangnya di kubangan. Tetapi meski begitu, penumpang tidak kapok, tiada pilihan, toh harus mereka lalui juga demi nafkah anak istri di rumah. Kota-kota modern dengan segenap infrastrukturnya, termasuk pabrik menjanjikan pekerjaan yang banyak jika dibandingkan dengan Bogor.
Pengalaman supir menjadi determinan dalam perjalanan menggantang nyawa ini. Pak Ujang sepertinya sudah karatan dengan melodi ngik-ngok badan bisnya yang mulai bersuara dan kropos ini. Pria 60-an ini tetap bisa tersenyum mengikuti percakapan kami. Intinya beliau tidak mau menganggur sampai sekuatnya dia bisa mengemudi bis Pusaka yang sudah harus jadi benda pusaka ini, sekuat masih mampu. Nanti kalau sudah tidak bertenaga lagi baru berhenti, katanya putus. Ngalur ngidul bercerita sudah ada di kubangan terakhir Gunung sindur, 3 km lagi sudah sampai Parung. Sampai Parung saya melongok HP jam 17.05, berarti dari Puspitek sampai Parung yang hanya sepuluh kilometer itu makan waktu dua jam. Ya Allah betapa berat perjuangan orang yang bekerja di jalur itu.
Pamit dengan Pak Ujang yang bersahaja itu, saya turun estafet lagi ke Bogor, tapi sudah dengan angkutan yang jauh lebih bagus, angkot Grandmax masa kini yang jalannya mantap seperti angin, karena jalan juga sudah lumayan bagus. Kembali saya terkesan kecut dengan perjalanan yang sebelumnya. Masa masih dietalase ibukota, di Jabodetabek, artinya bagi saya Puspitek itu jelas lembaga pusat yang berkhidmad buat negara, mampu membiarkan jalan rusak dihadapan matanya hanya 10 km, tapi beresiko buat keselamatan warga negara. Jalan itu jelas jalan negara ataupun mungkin jalan propinsi yang pembangunannya tidak bisa dinisbahkan hanya kepada Kabupaten Bogor.
Saya jadi terpikir jargon-jargon Indonesia Hebat yang sering semilir di telinga belakangan ini. Ya boleh, andaikan itu untuk menggugah SDM Indonesia membangun infrastruktur jalan yang hebat dan tangguh. Jangan hanya jadi proyek setiap tahun seperti di Pantura misalnya menjelang lebaran, atau mungkin di ujung Kabupaten Bogor yang baru saya lalui. Jika tidak bisa membangun jalan yang bagus saja seperti di luar negeri sampai pelosokpun berkualitas, demi percepatan pembangunan antar daerah, jangan harapkan Indonesia yang lebih baik. Jargon Indonesia Hebat hanya akan absurd jadi komoditas bibir, tak pernah terjadi pada tataran realitas. Penumpang di atas kubangan dalam waktu yang lama masih akan memelas, dalam hatinya saya lebih baik bawa kerbau ke sini atau bibit ikan lele.
*Telah terbit di FB Agustus 2014, mungkin keadaan fasilitas jalan di lokasi tulisan sudah berbeda sekarang, penulis hanya merasa perlu mengabadikan tulisan ini.



0 komentar:
Posting Komentar