Oleh : Darwin Nasution
"Memulai dari yang akhir, dan mengakhirkan yang awal",
begitu cita-cita Pak Prof. BJ Habiebie kala itu.
Teknologi Indonesia dirancang dari yang tertinggi (pesawat) baru kemudian ke yang teknologinya lebih rendah. Andaikan para poli-tikus tikus tidak menghancurkan seluruh proyeknya, bangsa Indonesia sejatinya telah berdiri dengan kepala tegak dalam bidang teknologi, tidak seperti sekarang lebih banyak menghamba ke asing, hanya sebagai tempat pemasaran produk, bukan produsen. Wacana itu mengemuka lagi kini. Indonesia menghujat karena itu adalah keputusan politik aneh, segala aktivitas PT Dirgantara dihentikan pada 2012.
Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo mempersoalkan pesawat-pesawat
asing yang menguasai langit Indonesia, seperti dikutip harian Kompas
tanggal 25 Mei 2012 yang kurang lebih menyebut ," Cetak biru N-2130 IPTN
dicomot oleh Bombarder CRJ 1000, Embraer-190, atau Sukhoi Superjet 100".
Ditengah maraknya industri maskapai, Bandara International Soekarno-Hatta
di Cengkareng, Banten, mencetak rekor tertinggi di dunia pertumbuhan
penumpang yakni 19,2 persen.
Namun, seperti dikeluhkan pengamat penerbangan Chappy Hakim, Indonesia hanya sebagai pasar. Kita mungkin berpikir seandainya dulu industri pesawat di dukung penuh maka Indonesia sekarang ini akan menjadi produsen pesawat bukan sekedar pasar dari Industri pesawat terbang dari negara lain. Rupanya sejak lama para penentu kebijakan lebih menekankan berpikir instan dan kurang mengantisipasi masa depan.
Penulis jadi teringat penggali harta karun yang telah menghabiskan energi yang sangat banyak melubangi tanah, dan tinggal sedikit lagi menggali sudah ketemu yang dicari, karena berbagai hal dihentikan. Datanglah penggali berikutnya dengan sedikit tenaga mendapatkan harta karun dalam jumlah yang luar biasa. Sedikit lagi kita bersabar pada proyek pesawat itu dulu, jam terbang sudah 9700 minus 300 jam--hanya 100 hari x 3 jam N-2130 sudah laik terbang patent Indonesia--kita akan mendapatkan hasilnya. Namun apa daya, jadilah ide-ide sang profesor asal Pare-pare plus dua anaknya--Ilham dan Thariq--jadi santapan lezat industri pesawat terbang di negara-negara lain, bak harta karun bernilai tinggi. Dzolim dan naif.
*telah tayang di FB Agustus 2014




0 komentar:
Posting Komentar