Home » » AURAT WANITA PENGHUNI SURGA*

AURAT WANITA PENGHUNI SURGA*

 Oleh : Darwin Nasution

Dalam beberapa hadits, Rasulullah telah memberitahukan sejumlah penghuni surga dari kalangan sahabat, saat mereka masih hidup. Nas’alullah min fadhlihi wa karamihi. Di antara sahabat yang memperoleh kebahagiaan itu ialah Ummu Zufar al-Habasyiyyah, seorang wanita berkulit hitam. Dahulu, Ummu Zufar sebagai maasyithah (tukang sisir rambut) Khadijah.


Allah memberikan usia panjang bagi sahabat wanita ini. Bisa dibuktikan dari seorang Tabi’in, bernama ‘Atha’ bin Abi Rabah yang sempat menjumpai calon penghuni syurga ini berjalan di atas bumi. Tepatnya di Masjidil-Haram, yaitu saat Ummu Zufar berada di tangga Ka’bah.

Berdasarkan keterangan hadits, ketika berada di Masjidil-Haram, Ibnu ‘Abbas menawarkan sesuatu kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah.
Ibnu ‘Abbas bertanya, “Maukah engkau aku perlihatkan seorang wanita yang termasuk penghuni surga?”
‘Atha’ menjawab, “Iya, mau.”
Ibnu ‘Abbas menceritakan:
Wanita yang berkulit hitam ini, dulu mendatangi Rasulullah sembari berkata:

“Aku terkena penyakit ayan. Aku khawatir auratku tersingkap karenanya. Tolong berdoalah untuk kebaikanku.”

Rasulullah (kala itu) menjawab:

“Kalau engkau mau, bersabarlah saja (dengan penyakit itu), maka engkau akan memperoleh surga. Kalau tidak, aku akan berdoa kepada Allah supaya menyembuhkanmu.”

Ia menyahut:

“Saya mau bersabar saja. (Tetapi) aku khawatir auratku terlihat (oleh manusia). Karena itu, berdoalah kepada Allah supaya auratku tidak tersingkap,”

Kemudian Rasulullah berdoa untuk memenuhi permintaan yang ia perlukan itu (HR al-Bukhari, hadits n.5652. Lihat Fat-hul-Bari, 13/23).


Penyandang epilepsi sering dihadapkan pada berbagai masalah psikososial yang menghambat kehidupan normal. Epilepsi dihubungkan pula dengan risiko stigma sosial yang tinggi di masyarakat. Hal demikian ini disebabkan oleh kekeliruan persepsi masyarakat terhadap penyakit, misalnya keturunan atau kutukan, perlakuan masyarakat yang merendahkan dan mengisolasi, bahkan menganggapnya menjijikkan.


Akan tetapi, telaahlah perkataan wanita berkulit hitam penghuni syurga dalam riwayat muttafaqqun alaih di atas. Kita tidak melihat satu kata pun meluncur dari mulutnya bahwa ia mambenci ketentuanNya--yakni penyakit ayan--yang ditakdirkan menimpa dirinya. Apakah ada perkataannya bermakna ia mengeluh dan merasa malu terhadap penyakitnya? Oh ternyata tidak! Bukan itu yang dia keluhkan. Bukan itu yang menyebabkan nya merasa malu. Ia mengeluh dan malu karena auratnya sering tersingkap saat penyakitnya kambuh. Padahal saat penyakit ayan itu datang, ia tentu dalam keadaan tidak sadar atau pingsan. Andaikan pun auratnya kelihatan dalam keadaan tidak sadar atau hilang akal, tentu tidak diangkat pena dosa padanya.


Akan tetapi demikianlah keistimewaan penghuni syurga ini. Wanita legam ini tetap sangat khawatir bila auratnya tersingkap meskipun dalam keadaan sakit dan tidak sadarkan diri. Bagaimana dengan kebanyakan wanita muslim di zaman mutakhir ini, yang saat sehat dan dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya RELA, SENGAJA, bahkan acapkali BANGGA memamerkan aurat mereka?


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka"(menutup aurat mereka). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (AL Ahzab 59)




*telah tayang di FB Feb2014

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger