Home » » APAKAH JEPANG MASIH MENJAJAH KITA?*

APAKAH JEPANG MASIH MENJAJAH KITA?*

 Oleh : Darwin Nasution

Seorang tutor pendidikan memaparkan analisisnya tentang bangsa Jepang berdasarkan pengalamannya menimba ilmu di sana. Kurang lebih katanya bangsa Jepang sejak restorasi Meiji telah bermetamorfosa menaklukkan mangsanya. Kalau di Indonesia misalnya tahun 1942-1945 Jepang dengan pasukannya bagaikan monster pencabut nyawa dengan mata nanar, gertak, dan angkuh kadang membunuh. Secepat kilat ujung bayonet menyayat bagi yang melawan, belum selesai dengan itu peluru dari senapan yang sama akan menyalak membungkam musuhnya. Itu dulu, sekarang aduhai sangat elegan Salam (membungkuk menghormati), Sapa (komunikasi hangat), Senyum (mencerminkan persahabatan). Kasat mata kelihatan seperti merendahkan diri, menghiba bahkan mungkin orang mengira mereka mengemis penghormatan. Jangan pernah berpikir seperti itu, ibaratnya itu hanya password supaya kita masuk ke situs kehidupannya dengan nyaman. Lebih jauh dari itu ke bangsa manapun di dunia mereka berlaku sama, tetapi mereka telah menata rapi apa yang mereka inginkan sebagai bangsa yang dihormati dan diperhitungkan. Jepang telah membuang semua nilai negatif semasa perang kemudian berganti dengan Loyal, Kompeten, Literate, dan Diligent. Dengan empat pilar ini mungkin bisa tergambar bagaimana Jepang di dalam dan ke luar.


Loyal atau derivatnya loyalitas berarti patuh dan setia. Bangsa Jepang sangat setia dengan semua yang Japan minded baik itu produk maupun jasa. Misalnya mobil Jepang diproduksi dengan konsumsi utama adalah untuk orang Jepang dengan kualitas dan mutu setara dengan bangsa manapun di dunia. Bahkan unggulnya Jepang sangat cepat dalam modifikasi dan model dalam kurun waktu tertentu. Bagi bangsa lain yang tertarik dengan produk mereka silahkan datang ke negaranya mereka akan menyambut dengan password sukacita salam, sapa dan senyum tadi. Coba perhatikan pabrik mobil berlisensi Jepang berapa banyak di dunia seperti misalnya di India, Thailand dan terutama Indonesia. Begitu pula dengan pabrik motor dan sparepart serta barang-barang reflikasi lainnya, dibuat dimana-mana di seluruh dunia bahkan sampai ke negeri Paman Sam. Di dalam negeri orang Jepang nyaris tidak akan memakai barang buatan negara lain. Di jalanan Jepang sangat susah ditemui mobil atau motor bukan produk mereka. Dalam berbagai sektor mereka juga memodifikasi negeri jatuhan bom atom ini menjadi destinasi pendidikan, kebudayaan, pariwisata dan mungkin juga olah raga kini. Semua menjadi industri yang merangkum added-value luar biasa buat bangsanya. Saya terbayang gaya anak nusantara yang sedikit-sedikit merasa sangat berharga kalau sudah bisa berlibur ke Singapur, tetapi tidak pernah tahu apalagi mengunjungi Singaparna, apalagi misalnya kampung apa saja di sisi gunung kapur Ciampea. Maksud penulis sebegitu hebatnya tarikan negara lain buat anak bangsa, meskipun sampai di sana cuma foto-foto doang. Nusantara tak kalah apik kalau kita bangun sebagai destinasi wisata dunia, sebagaimana sebetulnya asing sangat jeuleous dengan kekayaan dan keindahan alam Indonesia. So, orang Jepang mungkin tidak pernah berpikir demikian. Mereka menjadikan dirinya menjadi tujuan.


Kompeten, artinya menguasai bidangnya. Dalam hal apapun orang Jepang selalu berusaha berkarya sempurna. Contoh, tuan Honda dulu merancang logo produk Honda itu dengan gambar wing (sayap), dengan satu harapan di masa depan bahwa akan punya pesawat yang terbang mengudara dengan sayapnya. Maka tak heran pada tahun 2010 kemarin produk pesawat honda sudah launching. Produk yang diawali dengan motor, mobil, mesin-mesin, spare part dan seterusnya itu dirancang dengan upaya maksimal dan menguasai bidang bahkan ekplorasi. Kisah-kisah sukses lain masih banyak seperti tuan Suzuki, tuan Nissan, tuan Mitsubishi ataupun tuan Kawasaki. Dalam bidang lain misalnya pendidikan, Jepang menempatkan sangat banyak instusinya di daftar 100 perguruan tinggi terbaik di dunia. Jelas ini refresentasi dari penguasaan terhadap bidang apapun dalam ilmu pengetahuan. Apakah dengan semua kenyataan lapangan yang ada berbagai pabrikan itu bertebaran di Indonesia dalam genggaman mereka, sementara kita hanya pasar, jangankan menyamai membuat satu pun belum.


Literate, kurang lebih berarti sesuai literatur . Contoh ringannya begini kata sang tutor. Marka jalan S dipalang itu berarti berarti dilarang Stop. Nyaris takkan ditemukan orang Jepang melakukan pelanggaran berhenti sejajar marka jalan itu. Begitu pula dengan marka-marka lainnya di jalan seperti dilarang parkir, lampu jalan dst sehingga tercapai orde sosial yang rapi jali di jalan raya. Berpenduduk padat di kota-kota besar tapi tidak macet. Apalagi dalam literasi mereka yang lain misalnya bersepeda itu lebih berharga untuk lingkungan. Pemerintah memberikan contoh nyata kantor-kantor gubernur di Jepang itu didominasi parkiran sepeda, bahkan dengan literasi lain parkiran dibuat bertingkat dengan wahana hidrolik. Dengan begitu pula mereka pasti taat waktu karena sepeda tidak bisa diambil sembarangan, ada waktu pulang yang pas dan serentak sehingga potensi aparat efektif dan efisien.


Diligent, pintar dan rajin. Kita bisa lihat dua hal ini pada orang Jepang lewat media. Lihat saja acara TV, banyak film-film dll secara visual, seperti itulah mereka cakep-cakep, rajin, pekerja keras, kritis, lincah, kreatif, dsb. Atau kita main ke toko elektronik atau otomotif, disana pasti banyak merek-merek dan brand produk Jepang, itulah hasil hasil kerajinan, kepintaran dan kekreatifan mereka.


Dengan itu semua bercerminlah kita sebagai anak bangsa, kapan itu enyah Honda, Suzuki, Nissan, dllsbst dari bumi Indonesia jika kita tak punya loyalitas, kompetensi, literasi dan diligensi seperti mereka, dibuat sesuatu dan dilaksanakan. So tatap dan pikir, apakah kita masih dijajah mereka padahal ini negeri muslim yang punya sandaran jelas ??


لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sesungguhnya bagi kaum Saba´(Saba' telah tiada tapi negeri itu mirip Indonesia di setiap sudutnya) ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun" (Al Qur'an Surat Saba' ayat 15).

 

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qur'an surat Al-Qashash ayat 77)




*telah tayang di FB Feb 2014, dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger