Oleh : Darwin Nasution
Sambil membereskan bekas pengajian pria malam Senin, Abah Atang atau biasa di panggil Pak Atang tersenyum mempersilahkan jamaah menghabiskan kudapan pengajian. Hampir saja terlewat kalau tidak mubazzir karena abah tidak mau membawakan bekas makanan itu ke rumahnya. Selesai beres-beres baru pak Atang pulang ke rumahnya, di ujung blok paling dekat dengan mesjid.
Sampai di Perumahan Griya Dramaga Asri tengah atau sore hari biasanya membuat tamu segera langsung menuju masjid untuk shalat. Sholat dzuhur dulu, sekalian istirahat di temani pak Atang marbot mesjid AL Ihsan. Maksudnya mereka mungkin supaya nanti ketika masih jalan-jalan menunaikan pekerjaan tidak dikejar-kejar kewajiban sholat.
Mudah saja menemukaan masjid Al Ihsan. Berada persis di tengah perumahan, di samping fasum Cibanteng Griya Raharja, perumahan tetangga. Tujuan utama jamaah datang ke masjid pastilah untuk sholat lima waktu, namun tidak sedikit juga menjadikan masjid sebagai tempat beristirahat atau menginap para backpacker ataupun yang khuruj.
Di situlah mereka biasanya ngobrol sebentar dengan Pak Atang. Berusia sekitar 70-an selain sebagai penjaga masjid, Pak Atang juga bertanggungjawab terhadap barang-barang orang yang ketinggalan. Tangannya cekatan merapikan barang-barang tersebut lalu disimpan di kamar kecil di samping masjid. Senyumnya pun ramah menyapa jamaah yang ditemuinya. Ini dilakukan bergantian dengan Pak Tholib-rekan penjaga masjid lainya.
Saat tiba waktu sholat, biasanya Pak Atang bergantian menjadi muazzin dan terkadang jadi imam sholat. Jadi imam kalau terpaksa sekali, soalnya belakangan ini nafas abah Atang agak sedikit terganggu karena asmanya makin kronik dan usia yang menua. Kalau azan masih bisa dilakoni meski durasi suaranya juga telah mulai pendek.
Sejenak saya jadi ingat dengan beliau, seorang penjaga masjid dilingkungan kami di Cibanteng Griya Raharja dan Griya Darmaga Asri. Hingga akhir hayatnya Pak Atang mengabdikan dirinya untuk menjadi penjaga mesjid atau marbot.
Almarhum Pak Atang dengan anak-anak dan remaja masjid. Di sela-sela membereskan ketertiban masjid seperti menyapu, ngepel, azan, Iqomah, jadi bilal sholat Jum'at membantu acara PHBI mesjid dll, Pak Atang juga mendapat tugas mengutip dana sumbangan dari donatur tetap masjid Al Ihsan. Semua anak-anak dan remaja masjid adalah teman beliau. Kesibukannya biasanya bertambah ketika bulan Ramadhan tiba, mempersiapkan ta'jil sedekah warga sekitar untuk buka puasa.
Keikhlasan dan pemahaman kesukarelaan mengurus mesjid menjadi contoh baik kepada bagi pemuda mesjid melalui cerita dan motivasi-motivasi yang diberikannya. Tak heran remaja masjid dilingkungan saya hormat dan dekat dengan Pak Atang. Pak Atang pun kini telah berpulang kehadiratNya. Dua tahun terakhir beliau sudah jarang ke mesjid, berkutat dengan penyakitnya yang makin akut. Beliau meninggal tadi pagi jam 05.30 tanggal 21 September 2014 di usia 72 tahun dan telah menjadi marbot semenjak adanya Masjid Al Ihsan pada 2007.
Alm Pak Atang, semoga Allah merahmati beliau, adalah sosok penjaga mesjid siqoh dan istiqomah. Penjaga mesjid atau dikenal juga dengan marbot, jaman dulu sebetulnya bukan orang "sembarangan". Mereka istiqomah terhadap masjid, ikhlas dan tahu sedikit banyak tentang agama. Peran penjaga masjid tidak main-main, karena merupakan amanah langsung yang ditunjuk oleh DKM masjid. Jadi tidak sembarang orang yang ditunjuk untuk menjadi penjaga masjid.
Tidak hanya rajin mengurusi kebersihan masjid, seorang marbot adalah penjaga ketertiban masjid. Biasanya juga orang tersebut bersahaja, tawadhu dan taat beribadah. Pak Atang tinggal didekat masjid, sehingga setiap event masjid tidak pernah ketinggalan apalagi kalau hanya sholat. Bisa dibayangkan, abahlah orang yang paling pertama datang ke masjid sekaligus juga orang terakhir yang "meninggalkan" mesjid.
Teringat menatap dan berbincang dengan Pak Atang penjaga masjid Al Ihsan Cibanteng, serasa menghadirkan kembali dirinya di masjid . Dari situ saya tahu sesungguhnya banyak suka dan duka yang di alami para penjaga masjid. Abah bertahan walau dengan insentif yang minim.
Dalam hatinya mungkin lebih penting lebih dekat dengan rumah Allah sehingga perintah sholat menjadi terjaga tepat waktu. "Tidak ada kenikmataan besar bagi seorang hambaNya kecuali segera menjalankan perintah sholat " begitu kelihatan dari perilaku abah semasa beliau masih ada.
Selamat jalan Abah, innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Lapangkan kuburnya ya Allah dan beri penerangan di sana.
*telah terbit di FB September 2014



0 komentar:
Posting Komentar