Oleh : Darwin Nasution
Langsung saja ke TKP ya. Ini pengalaman menjejaki lapang penelitian. Kala itu, ada satu penelitian dari LIPI yang dikomandoi Mba Eniarti Johan, peneliti dari sana. Kurang lebih topiknya tentang kemiskinan dan assessibilitas kesehatan. Saya tidak akan masuk detil ke rincian topik, tapi ke background dan suasana penelitian itu sendiri. Apa yang terjadi sebetulnya di latar penelitian yang memparadoksalkan etika ilmu dan pelacuran religi?
Lokasi penelitiannya di desa Tarakhaini Kecamatan Gunung Sitoli Aloa, Kabupaten Nias. Kisaran waktunya dalam ingatan saya pada sekitar Maret 1998. Desa ini kurang lebih 7 km dari ibukota kabupaten Gunung Sitoli.Tidak terlalu jauh sebenarnya, tetapi begitu mau masuk ke jalur menuju desa, terasa langsung bahwa lokasi ada di ketinggian. Tapi biasalah mungkin tinggi kalau jalur menuju desa teratur naiknya, biasanya dengan cara mengitari bukit, tidak tembak langsung dan lurus. Karena diluruskan, jadilah kira-kira 300 meter sebelum memasuki desa terjalnya mencapai 45 derajat.
Penduduknya mencapai 99,99% beragama Kristen. Di sinilah masalah itu dimulai. Sejak awal penunjukan ke Nias ini saya sebetulnya sudah mengajukan keberatan, medan ini lebih cocok untuk yang seagama dengan penduduk ketimbang mempertimbangkan jenis kelamin. Tidak selalu ke latar yang lebih berat itu lebih cocok buat laki-laki. Bagi perempuan, yang tidak seagama ditempatkan di Tapsel itu malahan tidak akan masalah, karena dia tidak beribadah setiap hari, atau pantangan dalam konsumsi muslim di sana untuk seorang Nasrani.
Ketika pertama kali mencari data di desa ini, saya sudah merasa canggung, baik konsumsi, maupun sekedar air untuk pencuci. Saya temukan juga air mengalir di pinggiran desa, tapi saya ragu, itu terkontaminasi dengan kotoran babi. Terlalu jamak ditemukan kandang-kandang babi yang berhubungan dengan aliran air kecil itu. Mau menumpang sekadar wudlu di waktu shalat saya juga tak kuasa, tempat sumur berada juga dekat dengan kandang si moncong panjang. Mau makan di warung atau di manapun di desa serba tak bisa, karena peralatan yang dipakai untuk sekadar mengolah B2, bagi saya seorang muslim juga tidak boleh. Untuk shalat di waktu Dzuhur dan Ashar saya kumpulkan saja sebagai jamak takhir di waktu ashar hari pertama ini sebagai dloruroh. Ini tidak boleh berkelanjutan kalau sudah mukim di situ dan sudah ketemu tempat shalat, harus mengikuti ketentuan waktu setiap waktu shalat.
Disatu sisi, saya dikejar target dan time schedule setiap lembar penjaring data, di sisi lain terdapat banyak keterbatasan religius dalam diri saya. Seperti saya sebut di judul, ada etika dan religi. Pada hari kedua saya mengantisipasi segalanya dengan berbeda. Ketika hari pertama masih di hotel, besoknya saya check out, setelah saya menemukan rumah seorang guru sejarah SMAN 1 Gunung Sitoli, di salah satu jalan, Pattimura nomor 75. Berangkat sudah dari rumah Pak Guru Parlindungan Prd pada hari kedua ini. Lengkap dengan piranti makanan yang dibutuhkan sampai tengah hari di desa Tarakhaini. Sekadar makanan ringan dan minuman pengganjal perut mengitari latar desa kajian itu. Kalau makan siang dan shalat saya terpaksa harus turun ke Gunung Sitoli, karena alasan religi, bukan lagi makanan konsumsi. Itu bisa dibawa dari kota, cuma kalau toh harus turun juga sekalian saja semua pas turun gunung. Selepas ishoma siang saya naik lagi, dengan perlahan tapi meraung, ya memang karena raungan Yamaha TRX milik Dinkes Kabupaten Nias pinjaman, melewati tanjakan-tanjakan curam itu. Di sore hari sekira jam 4.30 saya harus pulang kekosan, dengan tuntutan yang bagi saya lebih penting, rasa beragama. Ditambah pula, saya tidak bisa menduga masalah keamanan di sepanjang jalan berhutan sebelum bersambung dengan perkampungan. Lebih baik hati-hati, karena ini hanya penelitian RRA.
Begitulah hari-hari selama kurang lebih seminggu di sana, hari-hari yang tersita porsi waktunya sangat signifikan di perjalanan menuju lokasi ketimbang dipergunakan untuk mencari data. Tapi itulah penelitian, dan itulah manusia dan juga latar alamiah. Penelitian harus dilaksanakan sebagai tanggungjawab kontrak, tapi manusianya juga tidak boleh menapikan dimensi religius yang melekat pada dirinya. Atau singkatnya penelitian tidak harus menjual agama. Meski itu sering terjadi oleh berbagai pihak dan individu demi melebur dalam latar alamiah sebagaimana sering disuarakan oleh stakeholder antropologi. Artinya lebih baik tarik diri dari penelitian yang tidak kondusif ini daripada mengorbankan keyakinan. Dan memang itu terjadi kemudian, saya mundur dan selesai.
ilustrasi rumah di lokasi*telah tayang di FB Mei 2013



0 komentar:
Posting Komentar