Allah SWT melarang umat Islam untuk berteman dan bergaul dengan pemeluk agama lain, apabila mereka memerangi umat Islam, atau membantu kelompok-kelompok yang menyerang Islam. Sebagaimana ditegaskan,
اِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَاجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS Al-Mumtahanah: 9).
Secara tegas, Allah swt melarang umat Islam untuk berkawan dan menjalin hubungan dengan pemeluk agama lain pada ayat di atas, hanya saja poin penting yang perlu dipahami adalah kaidah-kaidah dalam penafsiran Al-Qur’an, bahwa setiap ayat harus diletakkan dalam proporsi dan sesuai dengan konteksnya masing-masing, karena sejatinya ayat Al-Qur’an tidak turun dalam ruang hampa yang dengan sewenang-wenang bisa diterapkan di mana-mana. Maka, tidak boleh memaksakan ayat yang diturunkan dalam posisi perang, misalnya, untuk diterapkan dalam keadaan damai. Tetapi sebaliknya di saat perang, jawabannya adalah perang, jangan pula dipaksakan ayat-ayat damai, apalagi semisal Yahudi yang terus memerangi Islam di Palestina.
"Jika kamu diserang, seranglah" begitu pesan ayat 194 Al Baqarah. Itu solusi Palestina saat ini. Perang mengusir seluruh entitas Yahudi dari Palestina. Tapi oleh siapa ? Oleh rakyat Palestina sudah wajib. Wajib meneriakkan menang atau mati syahid. Muslim luar Palestina gimana? Bukankah al mukminuna ikhwatun?
Mukmin bersaudara seperti ada hubungan darah. Tapi, tanpa komando seorang junnah khilafah di kekhalifahan muslim di luar Palestina belum bisa membantu secara langsung ke sana. Hati menangis melihat kebiadapan musuh di sana, cuma bisa berdoa sebagai senaif-naifnya iman.
Oleh karena itu, untuk mereka sebagai sesama muslim kita perlu memandang Palestina dengan beberapa hal :
Pertama, mengukur keimanan bagaimana sikap kita terhadap penduduk Syam, negeri para Nabi, dan negeri para ulama,
Kedua, rakyat Palestina mewakili kita dalam menjaga izzah kaum muslimin. Palestina menyimpan kemuliaan kaum muslimin, yaitu Masjid Aqsho. "berpayah-payahlah rihlah ke ketiga masjid, yaitu Masjidil Haram Makkah, Masjid Nabawi Madinah, dan Masjid Aqsho Palestina"
Ketiga, bantulah mereka tapi pastikan sampai lewat jalur muslim yang amanah. Jangan sampai jatuh ke tangan oknum yang sengaja menangguk di air keruh.
Lalu, bagaimana dengan ahlul quwah bangsa-bangsa di sekitarnya, kenapa Mesir, Yordania, Saudi Arabia, Suriah, Lebanon, Irak dll tidak menembakkan sebutirpun peluru untuk membantu saudaranya?
Di sinilah lemahnya ikatan kalau sudah berbentuk nation state masing-masing. Islam sejak keruntuhan khilafah 1924 telah dikerat-kerat oleh Barat menjadi 60 negara.
Mustahil berharap ada bantuan militer ke luar negeri. Jargonnya adalah urusan dalam negeri orang lain, urusan dalam negeri Palestina, bukan urusan Suriah atau Yordan, beda meski warna dan pola semangka bendera hampir sama.
Maka, apa yang dapat dilakukan saat ini, lakukan. Boleh membantu makanan, obat, dan pakaian. Memboikot produk untuk menurunkan kekuatan ekonomi Yahudi sah-sah saja. Mau perang terending di media sosial melawan Israel oke juga dilakukan, jika punya alatnya. Jika pun tiada semua, berdoalah untuk mereka.
Apa yang diharapkan dari partisipasi minimal di atas, adalah jika tidak bisa mengusir entitas Yahudi dari Palestina sebagai puncak dari semua perjuangan, maka perjuangan-perjuangan kecil elementer juga jangan dibully dan diremehkan. "Jika tidak bisa mendapatkan semua, jangan tinggalkan semuanya".
Bogor 28/12/23




0 komentar:
Posting Komentar