PEMIKIRAN
Secara absolut saya berpendapat bahwa modal natural negeri ini adalah pertanian dan perikanan. Ketika kita petakan ke masa lalu benar pak Harto sampai mengawal pertanian dan kelompok nelayan dengan harus berdialog langsung. Ini bukan tanpa makna, atau jangan dianggap pencitraan. Tak percaya bandingkan kondisi pangan pada waktu itu dan kini.
Di masa itu hampir tidak ada gejolak masalah pangan baik harga maupun volumenya. Pangan apa saja pun tercukupi dengan jumlah dan harga yang stabil. Puncaknya Indonesia Swasembada Pangan menurut FAO pada tahun 1985. Pak Harto mendapatkan penghargaan itu di Roma pada sesi sidang PBB.
Coba kini. Keberpihakan pada apa di masa pemerintahan si krempeng ini. Visi dan misi yang tidak jelas pada modal natural dan modal sosial bangsa ini. Lahan luas, lautan membentang, penduduk banyak...masih saja berpikir bangsa ini mau dijadikan pasar sampah mancanegara. Sampah plastik berbentuk beras di dalam karung-karung tersarukan dalam gudang beras kita, tidak pernah terjadi di masa lalu. Buat apa yang palsu, yang asli juga berlebih.
Saatnya mengubah paradigma bagi setiap entitas anak bangsa bahwa modal kita adalah industri, manufacture dst yang sifatnya hanya franchise, hanya pabrik dan pasar, sesungguhnya pemiliknya bukan kita. Kalaupun mau diindustrialisasi, lakukanlah pada pertanian dan perikanan. Ribuan juta hektar lahan kita belum optimal, dan terbiarkannya potensi laut kita dicuri asing karena kita tidak mampu mengoptimalkannya sebagai indutri perikanan yang handal.
Benar sekali, ketika saya baca muqoddimah Nidzomul Iqtishodi karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, bahwa pemikiran itu adalah modal paling berharga. Maksudnya bagaimana Jepang misalnya setelah di bom dua kali oleh sekutu pada 1945, bangsanya sudah merasa berada di titik nadir. kalah perang, kalah teknologi. Setelah itu tak mau meratapi diri sebagai pesakitan, Jepang mengirim bangsanya sebanyak mungkin ke luar negeri untuk sekolah dan meraih ilmu, meraih pemikiran untuk diterjemahkan kemudian untuk membangun Jepang yang baru, mereka menyebutnya Restorasi Meiji. Pemikiran telah mengubah bangsa itu sampai menjadi penguasa teknologi kontemporer yang kita rasakan dalam setiap aktivitas kita kini, serba Jepang.
Maka absurdlah kini, ketika bangsa yang kaya tanah dan ikan ini tidak mempunyai pemikiran untuk mengolah, mengembangkan dan melipatgandakan hasil dari dua bidang ini. Sejatinya kita tak perlu malu belajar mempelajari cara bersawah yang baik ke Korea atau bagaimana cara mengelola laut ke Jepang atau Thailand. Supaya kita mendapat pemikiran yang cukup mengembangkan potensi negeri ini. Sebutlah misalnya sebagai Restorasi Nusantara, jaya di darat dengan taninya, jaya di laut dengan ikannya, niscaya negeri ini akan sejahtera, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, tidak hanya dalam semboyan tapi nyata dalam kehidupan, ada dalam genggaman.
0 komentar:
Posting Komentar