Balong Lembah Batu, God's Masterpiece
Oleh: Darwin Nasution
Adalah merupakan hajat keluarga besar sekolah, rihlah ke destinasi wisata alam Balong Lembah Batu di kaki G. Salak. Perjalanan dimulai dari titik kumpul MA Shautul Mimbar Al Islami, MASMI.
Sekadar stock opname, ada transport 1 angkot yang bawa Bu Eet, Queen, Nabila, Azimah, Bu Deli, Hasna, Ega, Salma, Vina, Hana, Riska dan satu orang anak bu Leni. Armada motor mengiringi di belakang, Putra sendirian, Pa Heri dan Aulia, Pa Rozy dan Bu Annis, Pa Luthfi dan Refah, Pa Darwin dan Bu Restu, serta Bu Leni, suami dan putra bontot di jok motor lainnya.
Start pada 08.30 dari jln depan sekolah, kita langsung disuguhi tanjakan tinggi tanpa henti sampai ujung Tumaritis, maksudnya stamplas pool angkot jalur Tenjolaya - Bubulak.
Setelahnya di depan belok kanan langsung turunan menukik tajam ke arah jalur Balong. Sekadar info, di pertigaan sebelum belok kanan tadi, ada jalur ke kiri, itu adalah ke arah Curug Mekar, banyak air terjunnya, konon menjadi hulu dari Kali Cinangneng.
Kembali ke jalur Balong, selepas turun tajam sekira 200 meter, naik nanjak lagi kurang lebih 2 km, mendaki tanpa putus sampai pertigaan Balong.
Sepanjang jalan menuju Balong kiri kanan pemukiman penduduk yg tampak tipis, rumah hanya sebaris rata-rata di pinggir jalan. Selebihnya dihiasi sawah dan lahan pertanian. Ada yang lumayan bagus, asri subur, ada pula yg kurang bagus, gersang dan tanaman tani yang menguning. Gunung Salak dipandang ke arah kiri sudah sangat dekat, sedekat jarak pandang, satu selepetan batu juga sudah kena badan gunungnya, ibarat karena dekatnya.
Lokasi tani yang tidak bagus tumbuhnya, mungkin karena banyaknya batu, tanah numpang tipis di atas batu-batu yang dibuat berundak-undak supaya bisa ditanami.
Perjalanan belum selesai, dari simpang Balong masuk lagi 300 meter, tapi sudah terlihat di depan saung-saung lokasi wisatanya.
Sebelum kita on track di sesi terakhir 300 meter ini, ada baiknya penulis mengajak pembaca ke literasi geografer.
Balong Lembah Batu Gunung Bunder masuk wilayah administratif ruang Desa Tapos 1 Kecamatan Tenjolaya Kab.Bogor. Sungai yang mengalir ke hilir dari titik rihlah, merupakan hulu Kali Cinangneng, Kali Ciampea, maupun Kali Cihideung, semua keluar dari perut Gunung Salak. Sisi kali dipenuhi tutupan hutan lebat, hutan hujan tropis, bagian dari 16 persen hutan tropis dunia yang ada di Indonesia dan Asia.
Setelah menaklukkan sesi terakhir yang melandai, rombongan jejak di lokasi jam 09.00. Ternyata butuh sekitar 30 menit dari Cibitung Tengah walau cuma range 2,5 km. Bisa lebih cepat? Tentu iya, cuma tadi tanjakan dan turunan sama sulitnya sehingga rombongan auto melambat.
Selesai urusan bea masuk non tiket ceban per kepala, kami turun ke lokasi sejauh sekurangnya 30 meter. Jalan dari batu disemen pinggirnya dan disusun batu campur pasir dilebarnya.
Sampai, dimulailah rasa takjub itu. Air gemericik bersih, bening sungguh, sepintas sepertinya bisa langsung masuk botol air mineral, selayak air minum mineral di pasaran. Saking bersihnya kelihatan dengan mata telanjang. Sisi kali hutan lebat, asli, tanpa usik tangan manusia. Ini sudah sangat dekat, lempar saja, itu sudah kaki Gunung Salak.
Di Balong Lembah Batu ini ada kolam yang dibuat bertingkat, terassering. Paling atas untuk anak-anak kecil, kedalaman selutut seluas 2x2 meter. Di kotak yang awal ini kelihatan lubang sumber air ke semua kolam renang di bawah. Teras kedua kolam renang untuk orang dewasa setinggi 1,5 meter luas 3x5 meter. Teras ketiga kembali lagi untuk anak-anak selutut luas 2x3 meter. Berakhir di teras ke empat kedalaman hampir sama dengan teras dua 1,5 meter, luas juga hampir serupa, kelihatan tidak sampai melebar.
Bagaimana imajinasi kita wahai pembaca bijak bestari, tentang gimana kolam ini dibuat, padahal berada di aliran air.
Jejak air terlihat jelas air di lokasi bisa dibelah atau dialihkan ke sisi hutan, sisi yang ceruk air lebih dalam. Kolam-kolam yang ada sekarang dibangun dipabrikasi kokoh dalam keadaan kering, air dialihkan ke sisi hutan dulu. Begitu pula sarana pendukung panggung-panggung lesehan dari kayu di atas tiang beton. Ada sekitar 7 panggung di sana seluas 2x3 meter. Atasnya dibiarkan terbuka tanpa atap. Pengunjung bisa pasang tenda kecil di atasnya. Tanpa atap ataupun tenda tetap teduh dan nyaman di atas panggung-panggung itu, karena matahari naik siang baru terasa memancar langsung ke arah balong.
Semua personel rihlah menikmati keindahan dan kenyamanan lokasi. Yang nyebur suka kolamnya. Yang makan lahap karena hawa sejuk merangsang selera ngudap. Yang foto ganti-ganti gaya memanfaatkan latar nan cantik alami. Ada pula yang sekedar mengitari tempat sembari pindah dari satu batu ke batu lainnya di bebatuan besar yg banyak terhampar. Pun ada sekadar rendam-rendam kaki resapi sensasi air dingin menjalar di urat kaki.
Begitulah ala kullihal kami puas. Puas dengan ciptaanMu ya Allah, sepuas kreasiMu di Balong Lembah Batu. Kami akan senantiasa Tafakkaru kholqolloh, la tafakkaru dzatillah sebab kalau kami memikirkan dzatmu bisa menggiring ke arah yang salah.
Kami ingin fokus ya Allah pada karyaMu, God's masterpiece, Maha KaryaMu.
Jam 11.30 rihlah usai, tapi kagum pada semua Ciptaanmu Ya Allah tak pernah selesai, selama kami masih bisa menikmatinya hingga batas usia.
Bogor 17/12/23



0 komentar:
Posting Komentar