Home » » BARISAN YANG KOKOH, SEBUAH REFLEKSI

BARISAN YANG KOKOH, SEBUAH REFLEKSI

 

BARISAN YANG KOKOH, SEBUAH REFLEKSI

Oleh : Darwin Nasution


Literasi yang meng-approach judul di atas diaspirasikan dari QS Ash Shaf ayat 2-4. Terutama dari ayat ke-4 yang identik ujung ayat tersebut dengan yang dimaksudkan penulis. Hal ini sebetulnya menilik kepada hasil analisa pimpinan yayasan terhadap keadaan sinergi di suatu sekolah yang beliau koordinasi.

Dalam kaitan tersebut, sesuatu muncul karena ada sesuatu. Keinginan akan bangunan ataupun barisan yang kokoh, tentu karena bangunan itu, atau barisan itu belum terwujudkan. Sudah barang tentu, boleh menjadi visi yang hendak diulang supaya semua stakeholder di sekolah mengerti hak dan kewajiban masing-masing tetapi tetap dalam kerangka sinergi, tidak bergerak sendiri-sendiri.


Untuk lebih fokus kepada yang diinginkan pimpinan tersebut, mari kita baca dengan seksama rangkaian ayat-ayat berikut.

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

 

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

 

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌ مَّرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Kenapa bangunan tersusun kokoh? Barangkali kita bisa berasumsi bisa karena kualitas bahan dan kualitas peramu bahan. Senyatanya di kehidupan sehari-hari paduan antara bahan yang bagus seperti semen terbaik, pasir terbaik, besi, kerangka atap, atap, keramik, cat--semua dari jenis terbaik—digabungkan dengan tukang terbaik yang mengerti menggabungkan semua bahan terbaik itu berdasarkan kualitas ilmu dan pengalamannya, keniscayaan mesti didapatkan bangunan terbaik yang kokoh. Visi pemilik bangunan sejalan dengan visi tukang yang ingin mengaplikasikan ilmunya sebaik-baiknya, seamanah-amanahnya, sebagai bagian dari marketing dirinya juga untuk trust (kepercayaan) orang-orang dimasa-masa yang akan datang. Sudah lazim kalau melihat bangunan yang kokoh dan bagus, yang ditanya siapa tukangnya, siapa dirigent bangunan itu sehingga tercapai hasil yang luar biasa.

Bagaimana supaya bangunan atau barisan yang kokoh tercapai di sekolah? Secara garis besar sudah disampaikan agar para pemangku kepentingan di sekolah—terutama guru dan staf—bersinergi, jangan berjalan sendiri-sendiri.

Menurut Febta Rina Handayani (2019), Sinergi adalah membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas.Bermanfaat dan berkualitas bak bangunan yang kokoh dan bagus yang diracik oleh tukang bagus seperti sudah dinarasikan di atas. Lalu  kembali bagaimana cara mendapatkannya, semua suka dengan cara mendapatkan barisan yang kokoh itu.

Jamaknya, sebuah organisasi termasuk sekolah mempunyai standar operasional prosedur (SOP) yang menjadi panduan di setiap bagian sekolah mulai dari suprastruktur sampai infrastruktur, mulai dari kepala sekolah sampai petugas kebersihan sekolah. Secara singkat SOP itu berisi norma atau aturan tertulis yang kira-kira bermakna “Kerjakan yang dituliskan dan tuliskan apa yang dikerjakan”.

Frasa di kalimat pertama “kerjakan yang dituliskan” merupakan rincian aturan yang harus dikerjakan oleh yayasan, seorang kepala sekolah, guru, staf, ataupun petugas kebersihan. Itulah tugasnya, itulah kewajibannya. Sejalan dengan itu harus dituliskan pula apa yang menjadi haknya, ada aturan tertulis apa yang didapatkannya dalam melakukan pekerjaan dimaksud.

Frasa kalimat kedua, “ tuliskan apa yang dikerjakan” merupakan record apa yang telah dikerjakannya. Seorang guru harus bisa menuliskan dan menyampaikan apa yang dilakukannya di kelas, apa yang telah disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar dengan siswa. Dalam kaitan ini, guru akan dituntun  mengacu kepada silabus, RPP yang dibuatnya supaya tercapai sesuai waktu yang dialokasikan. Begitu pula dengan stakeholder lainnya harus bisa menyampaikan pencapaian dari jobdesk yang telah diketahui di awal sebelum menyetujui tugasnya di sekolah.

Bila kita tarik nafas dari ayat ke-2 QS Ash Shaf di atas, maka memang kodrati sesuatu yang kita katakan, kita setujui, deal, telah dituliskan memang itulah yang harus kita kerjakan. Bentuk tugas dan amanah yang harus diemban.

Bila menerima pekerjaan, dimana pekerjaan itu berada di lembaga Islam, tentu ada perjanjian kerja dimana asma Allah disebutkan di sana, sehingga para pihak diikat oleh dilibatkannya Allah SWT dalam kegiatan dimaksud. Allah tentu tidak akan menyukai dilibatkannya diriNya dalam ikrar para pihak, tetapi tugas dilaksanakan tidak sesuai dengan rincian pekerjaan. Seperti isi ayat Allah membenci apa-apa yang kita katakan (yang baik), kita tuliskan—dan Allah diikrarkan di sana—tetapi tidak dilakukan kenyataannya dalam aplikasi tugas-tugas tersebut di lapangan, seperti makna QS Ash Shaf ayat ke-3.

Dari keterangan di atas SOP tentang mengatakan sesuatu harus dikerjakan sesuatu itu, tidak disukai banyak berkata banyak menuliskan aturan tetapi tidak dikerjakan. Harus sejalan sehingga layaknya bahan yang bagus menghasilkan bangunan yang kokoh, sehingga SDM yang baik menghasilkan barisan yang kokoh mewujudkan visi sekolah sebaik-baiknya terukur dan akurat.

 

Wallahu ‘alam

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger