Home » » BUAH HATI KE LIMA DALAM PASRAH*

BUAH HATI KE LIMA DALAM PASRAH*

 

BUAH HATI KE LIMA DALAM PASRAH

Oleh : Restunawati Nasution


Aku dan suami menikah limabelas tahun silam di awal tahun 1998. Hingga saat ini, Allah telah menitipkan padaku ini lima amanah yang empat putra satu putri. Putri bungsu kami baru lahir empat setengah bulan yang lalu. Ia selamat atas izin Allah, saat kami sebagai orangtua benar-benar pasrah dan ikhlas serta menyerahkan semua urusan kami pada Allah. Kami hanya memohon dan berikhtiar yang terbaik. Dan Allah membalas kepasrahan kami, dengan kabar gembira, walhamdulillah.

Selama limabelas tahun menikah, aku hamil persis lima kali. Empat laki-laki—DHANI, ASKAR, SIRAT, FARIS--yang lahir duluan, dua lahir normal dan dua bedah cesar. Ketika Faris lahir, dokter bilang akan sangat rawan bagiku dan bayi bila aku mengandung lagi dan cesar lagi untuk ketiga kalinya, sebaiknya disteril saja.

“Saya tahu perasaan Anda, Bu. Ini semata untuk kebaikan ibu, juga anak-anak ibu yang sudah lahir. Ini fakta dan harus ibu tahu, bahwa luka cesar rawan dibelah lagi sampai yang ketiga kali”, “Bla, bla…. “

Penjelasan dokter begitu sudah sering mampir di telingaku, tapi kami menginginkan anak perempuan. Air mataku menggenang, gurat sedih. Begitu halnya suami. Cuma beberapa kali ditawarkan steril sebelumnya kami selalu menolaknya, kami yakin pada kuasaNya.

Namun begitu, setelah delapan tahun semenjak kelahiran anak ke-empat, tak diduga karena saya merasa sudah berumur, saya hamil lagi. Delapan bulan kehamilan terhitung Januari, 23 Agustus 2012 bertepatan hari ke-dua Syawal 1433 H anak ke-lima saya ini sudah mengajak keluar meski belum waktunya. Setelah melewati pemeriksaan di puskesmas akhirnya dirujuk ke RSUD kabupaten. Sampai di sana begitu diobservasi, sorenya sudah dijadwalkan langsung operasi karena mulas di perut tanda mau lahir sudah terasa terus menerus

Putri bungsuku—FAZILA--lahir dalam keadaan tubuh menguning (istilah mereka di RSUD:birrilubin). Aku tahu karena mengikuti percakapan dokter dengan paramedis di ruang operasi. Aku hanya bisa pasrah. Subhanallah, hatiku begitu tenang bahkan aku tak menangis. Dalam hati aku memasrahkan semuanya, agar Allah memberi yang terbaik. Sekejap berlalu tak ada tangis bayi terdengar. Hingga tiba-tiba, “Oeekkkk…! Tim dokter memastikan berhasil ke arahku. Walhamdulillah, cuma bayi kami masih harus di inkubator karena berat lahir hanya 1,9 kg, 5 hari berikutnya sesuai jatah subsidi RS kami dipulangkan, dan disarankan kontrol seminggu kemudian.

Pada 29 Agustus 2012 ketika kontrol, kami mendapat hasil pemeriksaan dokter specialis anak yang memerlukan kesabaran penuh. Lahir 1,9 seminggu sebelumnya, ketika diperiksa hari itu beratnya susut menjadi 1,4 kg, ditambah hasil test darah menunjukkan tingkat kekuningan (birrilubin) mencapai notasi 17,5 dengan rujukan maksimal hanya boleh 0,2. Dokter menyebutkan harus diterapi sinar, tapi beliau tidak menyebutkan kemana, karena menurut info biaya perhari-nya sangat mahal. Hari itu juga saya mencari info tentang biayanya dan kesediaan RS menampungnya.

Di bilangan Bogor ada RS Marzuki Mahdi, RS Karya Bakti, RS Azra, RS PMI dan RS Hermina. Rumah Sakit yang disebutkan terakhir yang punya alat dan bersedia menampung dengan segala resikonya. Yang lain ada alat tapi ada rasa takut merawatnya. Tentang biaya, itulah yang bikin kita teringat dokter yang memeriksanya terakhir yang tidak menyebut angka, ternyata ya Allah...deposit 15 juta biaya 5 juta perhari, duit dari mana sebesar itu, kataku bergumam setengah sadar. Suami saya sempat bincangkan info ini dengan lembaga sosial Dompet Dhuafa (DD) yang punya Rumah Sehat Terpadu di desa Jampang Parung Bogor. Ternyata mereka belum punya ruang tata laksana bayi bermasalah seperti anak kami. Mereka tetap survey rumah dan anak kami dan dianjurkan supaya kami masukkan saja dirawat di rumah sakit terkenal itu. Tapi bagaimana mempertanggungjawabkan dana zakat lembaga itu, sementara kami masih tergolong bisa memenuhi kebutuhan pokok, kecuali mungkin ini, biaya rumah sakit, mendadak.

Kami sekeluarga masih masih berpikir, hening, antara mau dan tidak. Pada 29/8 itu juga malam harinya, keadaan Fazila, membuat kami yaitu saya, suami dan anakku yang pertama Dhani (13) berdo'a dengan cara yang berbeda-beda, bercampur isak tangis lapat-lapat. Mungkin karena terlalu lama dibawa kontrol ke RSUD pada hari itu, sementara bayi BBLR (berat badan lahir rendah) rawan dingin, malam itu Fazila tidak menangis, dan tidak terlalu kuat menyedot ASI, keadaannya melemah. Dhani membaca Qur'an Surat Yasin, suami saya komat-kamit mohon ampun pada yang Kuasa sambil berdo’a serius, saya membaca Tahlil, sementara 3 anak kami yang lain diam polos dalam tidurnya karena belum begitu faham masalah yang menimpa adik bungsunya. Saya dan suami telah memutuskan tidak mengambil tawaran lembaga sosial DD itu, dana itu lebih dibutuhkan orang yang jauh lebih tak berpunya dari kami, apalagi dengan nominal jut-jutan seperti itu. Kami sudah pasrah bahwa anak milik Allah dan Dia yang akan menjaganya.

Kami berazzam kuat akan mencari info dari orang atau media cara merawat bayi kecil seperti anak kami, misalnya dengan membuat lampu pemanas sendiri. Selepas malam itu setelah kami berdo'a dan berjaga bergantian, pagi harinya setelah berjemur selama 1 jam, anak itu menyedot ASI ibunya dengan sangat lahapnya sepertinya sampai tetes terakhir untuk produksi saat itu. Dia juga telah menangis lagi kemudian dengan kencang seperti biasa jika kehausan atau lapar. Begitulah keadaannya sampai dua bulan, 23 jam diantara lampu pijar, sejam di jemur di panas matahari, ASI plus susu formula BBLR, madu asli dan sesekali susu kambing. Allah SWT telah memberikan matakuliah kesabaran buat kami terutama saya merawat bayi mungil itu. Berat 2,4 kg setelah 2 bulan belum mencapai standar 2,5 bayi baru lahir, tetapi tetap wajib disyukuri karena perbaikannya sangat luarbiasa, dari benar2 kuning kala itu telah memerah.

Usianya kini empat  setengah bulan telah montok, angka timbangan sudah mencapai 5 kg. Terima kasih Ya Allah terima kasih saudara dan teman-teman atas do'anya, semoga keadaannya dari hari ke hari ke depan semakin membaik. Sekali lagi salam hormat dan terima kasih ku buat semua yang telah mendo'akannya. Semoga kebaikan yang sama dilimpahkan Allah SWT kepada saudara dan keluarga. Mudah-mudahan kelak 5 buah amanah ini menjadi perhiasan dunia dan akhirat kami. Aamiin allohumma aamiin... (Ummi Dhani)



*Telah tayang di FB Jan 2013

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger