Oleh : Darwin Nasution
Dalam suatu hadits, diriwayatkan Nabi SAW bersabda : “Hendaklah seseorang di antara kamu berdo’a minta kepada Tuhan apa saja yang dibutuhkan, meski minta tali pengikat sandal yang putus”. (HR. Attirmidzi)
Dalam riwayat lain dari Aisah ra, Nabi bersabda :
“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:
وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته
“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/225).
Maka perbanyaklah doa kepada Allah, bahkan perkara yang kecil-kecil karena semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala.
Kelihatan sederhana tetapi tetap kuasa Allah yang memberikannya, bukan determinan manusia. Atau kasusnya lebih kita sederhanakan lagi supaya mudah kita sama-sama cerna dan fahami. Anak atau adik kita menangis minta balon begitu lewat di depan warung harganya cuma Rp. 500. Tetapi, kalau kita sedang tidak punya uang, mau bilang apa. Apakah bisa menciptakan uang gope itu seketika simsalabim dabra ka abra. Tentu tidak. Kita akan berupaya meminta kepada keluarga atau orang lain, meminjam, atau menjual sesuatu untuk mendapakan uang lima ratus itu. Proses meminta, meminjam, atau menjual itu apakah murni pekerjaan tangan manusia. Kalau uang itu diperoleh untuk membelikan balon idaman adinda kita, semuanya tetap karena izin Allah Azza wa Jalla. Sesederhana tali pengikat sendal, tapi tetap harus minta padaNya. Allah yang memberikan jika akhirnya pengikat sendal itu sudah didapatkan.
Lalu, kenapa untuk hal yang besar kita ragu minta padaNya padahal Allah tiada batasnya. Untuk uang 500 atau tali saja kita tak mampu apalagi untuk hal yang urgen dan besar seperti syariah dan kepemimpinan Islam yang kita inginkan wujud di dunia. Semua berlaku dengan izinNya. Hanya saja, seperti aktivitas meminta, meminjam, menjual untuk mendapatkan uang atau mencari tali pengikat sendal seperti kasus di atas, itu adalah perjuangan dan proses. Jika telah sampai dapat membeli balon dan mengikat sendal tadi, itulah batas dikabulkan. Untuk syariah dan kepemimpinan Islam, perjuangan dan proses menuju upaya terkabul, itulah amalan dakwah.
Berjuang berinteraksi dengan masyarakat, memberi pencerahan terhadap pentingnya syariah dan kepemimpinan, untuk melindungi seluruh kepentingan umat Islam. Proses yang kita tidak tahu kapan endingnya, tapi perjalanan bersama masyarakat memperjuangkannya, yakinlah itu penuh kebaikan di dalamnya.
"Hendaklah ada segolongan di antara kamu yang menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, dan merekalah orang yang menang' (QS Ali Imran 104).
Segolongan yang diinginkan oleh Allah ada sebagai pengemban dakwah, jika sampai waktunya Allah akan mengabulkan dari golongan itu yang melanjutkan kepemimpinan Islam. Mestinya kita tidak ragu, dan berpikirlah simpel seperti entri kita tadi, segampang mengabulkan uang 500 dan tali, segampang itu pula bagi Allah membalikkan kondisi kehidupan tidak Islami sekarang ini, menjadi kehidupan yang syar'i di bawah kepemimpinan Islam.
Tugas kita berproses melaksanakan perintah, meninggalkan larangan serta sabar dan ridho memperjuangkan wujudnya ketentuan-ketentuan Allah dalam dimensi hablum minallah (Aqidah dan Ibadah), hablum minannafs (makanan, minuman, pakaian dan akhlak), dan hablumminannas (sosial, pendidikan, ekonomi, hukum, dan hubungan luar negeri).
*telah tayang di FB, Jan 2013



0 komentar:
Posting Komentar