Home » » DENGAN PEKIKAN TAKBIR, SURABAYA BEBAS MERDEKA*

DENGAN PEKIKAN TAKBIR, SURABAYA BEBAS MERDEKA*

 

P R O K L A M A S I

“Kami bangsa Indonesia menjatakan dengan ini

kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekoesaan d.l.l di-

selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempoh jang se-

singkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia

 

Soekarno / Hatta


Itulah teks yang dibacakan oleh Soekarno beberapa hari setelah kekalahan Nippon. Jepang kalah dan menyerah pada Sekutu. Hal ini disebabkan kota-kota Jepang Hiroshima dan Nagasaki dibom Amerika Serikat pada 06 dan 09 Agustus 1945.

Beberapa bulan setelah pernyataan kemerdekaan Indonesia, Sekutu mendatangi negeri kita, tepatnya 25 Oktober 1945. Mereka tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherland East Indies).

Pasukan AFNEI mendarat di Tanjung Priok di bawah pimpinan Letjen Sir Philip Christison. Pasukan Sekutu diboncengi NICA (Netherland Indies Civil Administration) pimpinan Van Der Plass sebagai wakil Van Mook.

Setelahnya mereka mulai menyerang rakyat dan tentara Indonesia yang mempertahankan kemerdekaannya, di antaranya yang paling heroik di Surabaya.

Pertempuran Surabaya berlangsung selama 3 minggu, memakan banyak korban jiwa baik di pihak Indonesia maupun Sekutu yang diboncengi Belanda. Puncak pertempuran terjadi pada 10 Nopember 1945.

Rakyat Surabaya menolak menyerah karena ada dorongan spirit Soempah Pemoeda ke-37, bertanah air satu, Tanah Air Indonesia. Pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Boeng Tomo terus menyerang pos-pos pertahanan milik Sekutu.

Dorongan yang membuat rakyat Indonesia di Surabaya, dan di berbagai daerah pantang menyerah. Pekikan takbir “Allohu Akbar” Boeng Tomo teguh menyatakan diri siap berjihad di medan tempur.

“Dan kita jakin saoedara-saoedara pastilah kemenangan akan djatoeh ke tangan kita. Toehan akan melindoengi kita sekalian, Allohoe Akbar ! Allohoe Akbar ! Allohoe Akbar”, seru Boeng Tomo dalam pidatonya.

Pada awalnya, semangat Indonesia merdeka karena adanya Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari, ulama pendiri NU, pada tanggal 22 Oktober 1945.

Para santri KH Hasyim Asy’ari turun hadir dalam jihad dengan seruan takbir. Itu menjadi senjata ampuh pasukan santri, rakyat, tentara, yang dikomandoi dan digerakkan oleh Boeng Tomo. Surabaya bebas merdeka, semangatnya menjalar ke seluruh pelosok negeri.





*Artikel Refah, kls xi, tugas mapel Sejarah untuk majalah dinding Masmi, disimpan sementara di sini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger