Teman-teman bijak bestari, apa gerangan yang disebut instan. Dalam Bab.la.co.id terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, instant bisa berarti "segera", come here this instant berarti datanglah ke sini segera. Atau dapat berarti "seketika", an instant success bermakna sukses seketika. Selain itu boleh juga diartikan "cepat", coffee instant maksudnya adalah kopi instan yang bersifat fast drink atau minuman cepat saji. Seduh jadi, tidak seperti minuman lain di Barat yang harus diracik dulu oleh bartender. Di Indonesia yang terkenal adalah mie instan, yang seduh bentar, tunggu, maka jadi, siap dimakan setelah ditaburi bumbu yang tersedia dalam kemasannya.
Dari contoh-contoh tadi secara umum instan berarti cepat, segera atau seketika. Untuk hal-hal yang tidak butuh proses mungkin fine-fine saja. Seperti memenuhi undangan atau panggilan teman, sebaiknya segera datang. Atau menyediakan sesuatu seperti kopi atau mie bagi orang atau siapa saja yang tidak punya banyak waktu sah-sah saja. Tapi senantiasa yang dipaksa cepat itu ada unsur tidak baiknya. Makanan cepat saji, minuman cepat saji mengandung unsur yang maksa gurih atau maksa sedap untuk makanan dan minuman. Benar saja kan ada penyedap dan pemanis buatan di dalamnya. Makanan-makanan street zaman now juga sebenarnya menganut filosofi cepat saji, dipaksa gurih dan sedap. Cireng, cilok, baslok, cilor, otak-otak, bilung dst hampir pasti bahannya sudah di-mecinin, setelah matang ditabur lagi dengan penyedap sejenis aneka rasa, balado, jagung, cabe instan dll. Bumbu dapur untuk gulai, lodeh, rendang juga tersedia yang instan dalam kemasan. Hasilnya, jauh dari rasa yang diproses alami, sabar, sampai dapat kombinasi yang diinginkan. Asam, manis, gurih, pedas dan seterusnya terasa harmoni. Selayaknya makanan yang diproses butuh waktu, rendang misalnya, lezat, alami bahkan tahan lama disimpan. Kualitasnya prima.
Lalu, bagaimana kalau yang instan menjadi style anak zaman now, anak milenial ataupun zilenial. Semua ingin instan. Belajar juga mereka mau instankan. Ilmu susah diperoleh kalau tidak sabar dengan prosesnya. Pintar tidak bisa sim salabim dabra ka abra. Jadi orang pintar harus rajin datang sekolah. Rajin menuliskan sesuatu, rajin membaca dll, dalam frasa "rajin"ringkasnya
Dengan begitu sedikit demi sedikit berkumpul ilmu dan pengetahuan pada alam sadar dan bawah sadar seseorang. Sabar mengikuti proses yang butuh waktu sinambung terus menerus.
Banyak kasus anak sekolah tidak mau capek, ingin dapat ujian, dan dapat nilai bagus di akhir semester, akhir tahun ataupun akhir studi. Disuruh mencatat, resume, ataupun menuliskan kembali dalam bentuk tulisan tidak mau dilaksanakan. Yang terjadi malah menawar supaya tidak mencatat, tidak meresume, bahkan tidak melaksanakan tugas menulis dari guru. Apa yang terjadi ketika masuk sistem penilaian? Indikator rata-rata rendah, karena faktor-faktor literasi pengetahuan dan ketrampilan dari sang guru ogah-ogahan di kerjakan bahkan tidak sama sekali.
Apa akibatnya kemudian, literasi rendah, ilmu sangat sedikit, IQ pun kata ahli cuma 75. Padahal harusnya jika ikut proses akan mencapai IQ >90. Di dunia persaingan global juga akan ajeg ketinggalan, tidak matching dengan dunia dan pasar kerja dst. Itu kontinuitas dari tersendatnya pengisian otak dan akal sehat pada usia sekolah. Persoalannya lebih kepada tidak mau, tidak siap, semua ingin instan. Tidak ada orang dilahirkan bodoh atau dungu di atas dunia ini, yang ada hanya disparitas dikotomis rajin dan malas. Rajin, berproses, hasilnya akan selalu pintar. Malas, instan, entahlah, Bung Rocky Gerung akan menjawabnya sembari tertawa.
Bogor 22/01/24



0 komentar:
Posting Komentar