Oleh : Darwin Nasution
Seorang bocah (little man) bertanya kepada ibunya (mom) tentang nilai hidupnya. "Mom, seberapa besar nilai hidupku?", tanya sang bocah tepat ketika ibunya pulang kerja. "Eumm", sahut ibunya pendek, kaget dengar pertanyaan serius dari anaknya usia SMP. Tentang nilai kehidupan, terkait harga diri. Ibunya bergegas ke dalam rumah mengambil sesuatu, lalu berbalik menemui anaknya di luar.
"Ambil batu ini, dan cari tahu di luar berapa harganya, kalau kamu sudah selesai dan berhasil, kembali ke rumah", kata ibunya. "Nanti aku akan menjawab pertanyaan khusus itu untukmu", tambah ibunya kemudian. Sang bocah bergegas mencari info tentang batu itu di luar, dia menuju ke keramaian, lebih tepatnya ke pasar yang ada juga kantoran di sana.
Ketemu acak pertama dia menemui tukang buah. "Tuan, bisakah engkau memberitahu berapa nilai batu ini?', tanya si bocah. "Aku tidak tahu nak, aku akan memberimu satu buah pisang untuk itu", seru pedagang buah itu. Sekadar mendapat info awal, bocah melanjutkan medley tanya-tanyanya. Untuk yang kedua, dia kebetulan ketemu sama seorang petugas museum yang sedang berada di luar kantornya. "Berapa harga yang akan dibayar museum untuk batu ini?", tanya nak itu ringkas. Petugas museum terdiam sejenak kaget baru saja dicolek bocah dari belakang. "Aku menyukai antusiasmemu nak, tapi kami tidak membutuhkan salah satu dari ini (batu permata) dalam koleksi kami sekarang", terang sang petugas museum. Cukup dengan penolakan halus petugas museum tentang nilai sebenarnya dari batu itu, dia melanjutkan pencariannya. Tiba di yang ketiga seorang pedagang emas dan permata yang sudah tua. "Kek, berapa nilai batu ini sebagaimana pengalamanmu dalam berdagang?", tanya bocah serius dan hormat. "Permata yang kamu miliki ini, adalah permata yang paling sempurna yang pernah kulihat. Aku tidak dapat membayangkan berapa harganya, ", puji sang kakek pada anak kecil itu. Si anak tersenyum, masygul hati pulang pamit pada kakek itu untuk menemui ibunya di rumah ingin menceritakan beberapa info yang dia dapat.
Tetiba di rumah, langsung cerita sudah ketemu pedagang buah, pekerja museum dan kakek pedagang emas, lalu menanyakan nilai batu permata itu. "Mom, seberapa sebenarnya nilainya, dan apa hubungannya dengan nilai hidupku?", ulik bocah penasaran.
"Nak, orang akan menilaimu berdasarkan sudut pandang mereka, tingkat informasi tentangmu, dan keyakinan mereka padamu. Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan, bahwa kamu benar-benar tak ternilai. Ingat, dekatkan dirimu dengan 'orang-orang' yang menghargaimu, sama seperti tukang emas yang menghargai permata itu. Sayang, kamu benar-benar B E R H A R G A. Kamu adalah karya The Creator Allah SWT sempurna yang dianugerahkan buat kami", papar ibunya panjang lebar.
Mom mendekati anaknya, memeluknya erat, menciumnya lekat. Di bola mata ibu dan anak terlihat bilur-bilur air berkaca-kaca, sama-sama puas pada jawaban ibu atas 'pertanyaan khusus' sang anak.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
(sebaik-baiknya fisik, akal dan hati, orang-orang yang beriman: penulis)
Bogor 27/01/24
"Anak-anakku Dhani, Askar, Sirot, Faris, Hasna..Anak-anak didikku Angga, Ega, Salma, Sahid, Rijki, Allan, Rasya, Pajar, Fauzan, Refa, Nabila, Putra, Riska, Vina, Hana..ponakan-ponakanku Queen, Azimah, Alila...kalian semua tak ternilai, benar-benar Berharga".



0 komentar:
Posting Komentar