Al amalu marbutun li mafahimi, kurang lebih bermakna "perbuatan seseorang terikat dengan pemahamannya. Frasa ini sebenarnya adalah bagian dari pendapat Al Alamah Syaikh Taqiyudin An Nabhani dalam kitab Mafahim fil Islam. Penting pemahaman terhadap satu dan banyak hal, karena akan menentukan tindakan selanjutnya, yang mengindikasikan tegas apakah yang bersangkutan paham pada masalah atau hal yang dibicarakan, dibahas ataupun dipedomani jadi aturan.
Dalam kehidupan sehari-hari keadaan paham ini dapat dilihat misalnya dari siswa yang belajar atau orang yang sedang pengajian. Tingkah laku paham menunjukkan fokus, kerendahan hati, kejernihan pemikiran, syarat yang bekerja berbinar di rona mata, dan yang terpenting ilmu tidak membutakannya, malahan kelihatan elegan dan kaya hati. Begitulah secara singkat orang yang paham sesuatu.
Untuk yang tidak paham terindikasi seperti tidak konsentrasi, tidak memahami materi yang tentu secara otomatis tidak bisa mengulangi apa yang dikatakan guru (musyrif jika sedang mengaji), tidak percaya diri, terlihat cemas dan bimbang, serta kelihatan kurang aktif dalam kegiatan baik bertanya atau memberikan masukan.
Kondisi di atas pada gilirannya akan menghasilkan output yang kurang memuaskan. Ketidakpahaman dalam pelajaran siswa tegak lurus dengan nilai yang kurang bagus baik sehari-hari maupun semesteran. Untuk orang yang sedang pengajian kemungkinan besar mengalami perlambatan dalam turats dan tsaqofah Islam.
Akan tetapi, masalah tak paham insyaAllah ada solusi supaya faham. Pelajar atau seorang al fagir ilmu harus senantiasa fokus pada solusi tentang upaya kepahaman dalam ilmu, jangan fokus pada masalah kenapa saya tak kunjung paham, atau merasa terus menerus dalam kebodohan.
Innal jahla dauun, wa ammasysyifaahu assu'al. Kebodohan atau ketidakpahaman itu adalah penyakit, obat dari penyakit tersebut adalah bertanya. Bertanya kepada siapa supaya paham. Bisa kepada teman bijak bestari, kepada guru yang digugu dan ditiru ataupun kepada syaikh yang shalih wa mushlih.
Fasaluu ahladzzikri inkuntum laa ta'lamun (An Nahl 43). Bertanyalah kepada orang yang mengetahui, jika kamu tidak tahu. Solusi untuk memutus jahla atau kebodohan dengan banyak bertanya kepada orang-orang pandai di antara kita.



0 komentar:
Posting Komentar