Sangat sulit mungkin mendapatkan penyembuhan yang maksimal di Rumah Sakit Umum Daerah (Desa?)
Leuwiliang Kab. Bogor. Apa pasal? Orang-orang pada merokok di depan
ruang perawatan, di selasar, di taman, di toilet, di lobby, di parkiran,
di antrian pendaftaran, dan ada juga kelihatan di dalam ruangan ber-AC.
Bagaimana mungkin tidak meracuni, jika hampir setiap jengkal ruang
beratmosfer asap rokok. Orang-orang tak segan pula membuang puntung di
saluran air, di selasar, di taman, di closet, bahkan di pinggiran ruang
bedah. Kelihatan berdasarkan usia puntung ada yang mendekati warna
tanah, ada yang masih menguning setengah matang, ada yang masih putih
sedikit buram karena mungkin baru beberapa hari, dan ada yang masih
segar ngebul menyala.
Sedikit dari pada asapnya saya yakin menjadi
konsumsi pasien yang sedang diupayakan penyembuhannya. Alih-alih
mendapatkan itu, mungkin setelah pulang hakikinya dia terkontaminasi
racun lain, racun rokok.
Ironis. Itulah
realitas rumahsakit rural baik dari segi posisi maupun kultur.
Lingkungannya diliputi suasana desa yang kebetulan tidak teratur, tidak
bersih, dianggap murah bahkan cuma-cuma dari pemerintah, tidak sadar
lingkungan bahkan tidak sadar kesehatan padahal di rumah sakit. Saya
tidak menemukan hal-hal di atas di rumah sakit urban di kota Bogor.
Taman yg rapi, closet bersih, selasar kinclong, lobby yg segar, parkiran
teratur, manusianya intelek sadar lingkungan dan sadar kesehatan...dan
di sana betul-betul berlaku rumah sakit sebagai kawasan bebas rokok.
Orang-orang yang pengen merokok harus "terbuang" ke luar pekarangan
rumah sakit. Tak patuh sepertinya dengan sendirinya mereka mendapat
sanksi sosial dari masyarakat, di pandang aneh. Dua realitas yang
kelihatan menuju dua arah yang berbeda.
0 komentar:
Posting Komentar