Home » » SANTRI KU

SANTRI KU



Sebetulnya bukan karena kami punya pesantren sehingga memiliki santri. Di rumah kami ada anggota keluarga yang berstatus santri di sebuah pesantren tahfidz yang dikelola satu kelompok dakwah Ahlussunnah wal jamaah. Persisnya anak kedua kami dari lima bersaudara, Askar Daulah Al Kayyis nama lengkapnya (Askar 12 thn), lulus di antara 30 santri yang diterima di sana. Belakangan dapat kabar mereka tinggal 10 orang ketika program menghafal ini memasuki 1,5 tahun atau sepertiga dari waktu yang direncanakan untuk keseluruhan isi Al Qur’an. Berguguran satu persatu dari 20 orang temannya itu karena berbagai hal, umumnya indisipliner. Semoga gugurnya menyuburkan lahan hati dan memupuk semangat raga bagi yang tersisa.

Santriku, resmi ikut program tahfidz ini awal Januari 2013. Dia rela melepaskan sekolah SMP negeri di kecamatan Darmaga demi jadi santri ini. Memasuki dua bulan pertama santriku dan teman-temannya masih utuh sejumlah penerimaan awal. Ada undangan ke kami seluruh wali santri tatap muka hasil evaluasi awal program mereka. Acara berlangsung hangat antara ustadz-ustadz pengelola, santri dan wali santri. Selepas acara sambutan, tanya jawab, rupanya masih ada penampilan santri yang tidak disangka-sangka. Seorang temannya dan santriku didaulat tes hapalan acak dari ayat-ayat surat pilihan Yasin, Al Hasyr, Al Kahfi, As Sajadah, Ar Rahman dan Al Waqiah. Anak kami yang tampil pamungkas melanjutkan potongan ayat bacaan gurunya, alhamdulillah, lancar tanpa tersendat beberapa kali percobaan. Juga tantangan setor hadits yang telah dihapal berkaitan dengan keutamaan mempelajari Al Qur’an terlafazkan santriku dengan mulus. Alhamdulillah, hatiku kembali bergumam, bibit kemauan tahfidznya merekah, semoga subur dengan istiqomah.

Begitu memasuki bulan ketiga di pesantren, hati kita orang tua sebenarnya sudah mulai tenang. Maksudnya dugaan kita adaptasi dengan orang-orang baik guru-guru dan teman sudah cair secara sosial, maupun dengan lingkungan termasuk sanitasi dan makanan. Tak dinyana ternyata belum sepenuhnya benar. Pertengahan bulan datang telepon dari pondok bahwa anak kami terkena diare sudah dua hari. Ketika kami tengok wajahnya pucat, matanya cekung karena dehidrasi. Sudah 15 kali lebih katanya buang air besar ke toilet. Diputuskan dibawa pulang dulu untuk dirawat di rumah. Sampai di rumah setelah di terapi pijat dan konsumsi herbal, dia malah merasa melilit hebat dan santriku meringis menjerit memegang perutnya. Tanpa pikir panjang, di malam hari kejadian itu, langsung saja kami pindahkan opname di salah satu rumah sakit pemerintah di bilangan Menteng Bogor. Dirawat dua hari di sana, setelah menceret-menceretnya berhenti, kami putuskan dibawa pulang saja untuk diteruskan rawat jalan.

Dalam perjalanan dari rumah sakit, santriku bilang meski baru beberapa hari tidak berada di pesantren dia sudah rindu pulang. Kangen teman-temannya, juga ke salah satu gurunya—ustadz Jamal namanya—yang kerap memanggilnya ‘syekh’. Mungkin ada kelebihan santriku di matanya sehingga ada panggilan khas itu, begitu kami sahuti di rumah berbaik sangka. Ada juga sebetulnya bocoran kemudian di pondok saat kami kembalikan dia setelah sehat, Askar termasuk yang lancar hapalannya sesuai target gurunya dan patuh pada disiplin pondok. Sementara teman-temannya banyak yang macet, bahkan banyak yang mendapat peringatan baik materi maupun indisipliner.

Program tahfidz berjalan terus, interaksi dengan guru-gurunya juga makin sering. Seorang di antara gurunya yang lain—ustadz Muadz guru bahasa Arab—kebetulan bertemu dengan kami disalah satu bank syariah sama-sama ngantri pelayanan teller. Beliau yang memulai cerita setelah saya tanya kabar kesehatan anak kami. “Baik-baik saja pak, gemuk dia sekarang”, kata bapak itu mengabarkan. Bahkan kata sang ustadz,  beliau baru menyuruh anak kami tampil membaca hapalan Al Qur’an di hadapan anggota kunjungan salah satu majlis taklim ke pesantren. “Anak bapak menjalankan tugasnya dengan baik”, kata sang guru melanjutkan ceritanya.

Masih dalam obrolan dengan gurunya itu, sempat pula disebut bahwa beliau mau mengisi pengajian di satu desa sekitar pesantren. Sudah beliau putuskan  untuk membawa Askar membaca hapalan Ar Rahman di salah satu tertib acara pengajian itu. Menurut versi anak kami kemudian bacaannya mengalir lancar dari ayat pertama sampai akhir. Subhanallah sekali lagi semoga tetap dalam hidayah dan istiqomah.

Salah satu kisah paling mengesankan di pondok kata santriku, saat semua gurunya mengikuti acara di luar. Belum ada penunjukan imam shalat di antara santri kalau guru-guru yang sekaligus imam secara bergantian itu berhalangan. Ketika itu waktu shalat Isya, bacaan Al Fatihah dan surat harus di zaharkan dengan nyaring. Dorong-mendorong terjadi tidak ada yang merasa sanggup. Akhirnya muncul ide menunjuk siapa yang paling banyak hapalannya. Ya Allah, kembali alhamdulillah, jatuh pada santriku pilihan teman-temannya. Kami yakin itu pilihan jujur memperhatikan keseharian sama-sama menuntut ilmu di pondok. Kabarnya ayat-ayat yang dibaca waktu itu dari potongan sebagian Surat At Tahrim dan Al Hasyr, bagian dari hapalan awal santri.

Waktu demi waktu berlalu cepat, sudah satu setengah tahun santriku di sana. Sudah menginjak 10 juz hapalan atau setara 1/3 Al Qur’an. Seperti cerita ini dimulai, banyak temannya berjatuhan keluar dari pondok tidak kuat proses dan aturan. Kami pun melihat nuansa sedikit lelah tergambar di raga. Terbias sedikit rasa jenuh di wajah, tapi kami berupaya terus menjaga semangatnya. Setelah 10 juz tuntas, kami menjanjikan bonus besar untuknya. Dijanjikan akan diserahkan di akhir semester 3 ini yang sudah tidak terlalu lama lagi. Dia kembali berbinar, semoga bukan karena bonusnya semata. Sebab, syarat pendukung shalat dhuha, qiyamul lail mesti dilaksanakan semakin sering. Tetapi tak ada salahnya pula memberi stimulus menyenangkan hati anak, sembari tetap berdo’a nian dia tetap dalam genggaman hidayahNya meneruskan hapalan dan mempelajari Al Qur’an kitab suciNya.

1 komentar:

  1. Mantap........ Dan mengagumkan adanya santri yang dibina orang mandailing di peranrauan.

    BalasHapus

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger