Hari ini saya menemukan istilah mentalitas kepiting ketika mencoba memahami seseorang yang selalu mencela dan menyerang orang lain dengan sarkastik. Awalnya saya mencoba untuk mengabaikan mereka saja, tapi tidak bisa, mengganggu juga nyatanya.
Segeralah sadari siapa di antara teman-teman Anda yang bermental kepiting.
Tidak susah menemukan mereka, ciri utamanya adalah menghambat kita untuk maju atau menghalangi kita untuk mengambil keputusan yang bernyali dengan goal-future yang oke.
Selalu ada “kepiting” yang berusaha menarik orang-orang untuk tetap berada dalam dasar keranjang, tidak maju baik karir atau pikirannya. “Kepiting” tadi minimal membuat gusar orang lain, memaksa berdebat kusir berdiskusi kehilangan substansi lalu menyerang pribadi dan membuat orang-orang berputar-putar.
Saya pikir di semua zaman, “kepiting” semacam ini pasti ada, berusaha menghalangi orang-orang untuk maju dan berkembang. Menuduh bahwa orang-orang yang hendak berupaya berjuang adalah orang-orang tidak bersyukur. Seorang motivator menambahkan bahwa ketika bertemu dengan “kepiting”, langkah yang harus dilakukan adalah:
“Jauhi dan jangan dengarkan mereka. Mengapa kita perlu menjauh? Sebab sebenarnya mereka sedang mencari teman agar kita bisa tetap hidup di dasar keranjang. Walau setelah kita ambil pilihan tetap di dasar keranjang, mereka tidak peduli dengan kehidupan kita. Ayo segera keluar dari keranjang, tinggalkan dan sisihkan teman-teman yang bermental kepiting dari keranjang”
Apakah kepiting ini ada dalam dunia politik. Mari lihat kenyataannya di
antara partai-partai Islam, anggap saja seperti kepiting dalam suatu keranjang.
PKB merapat ke PDI Perjuangan yang mengusung capres
Jokowi. Sedangkan PAN, PKS, PPP dan terakhir PBB merapat
ke Gerindra yang mengusung Prabowo. Selain karena tidak memiliki pegangan
ideologis, pragmatisme itu juga didukung rasa kurang percaya diri dari parpol
Islam dan berbasis massa Islam. Ini juga menunjukkan rasa kurang percaya diri
bahwa tokoh dari partai Islam akan mampu memenangkan Pilpres.
Di samping itu, mereka itu memiliki tabiat seperti yang dibahas di atas, yang karena bahasan ini beralih ke politik, sebut saja politik kepiting. Kembali persepsinya bila ditaruh kepiting yang banyak di keranjang maka tidak ada satu pun yang akan keluar. Padahal keranjang tersebut tidak ditutup. Karena setiap kali ada kepiting yang naik untuk melompati keranjang akan ditarik oleh kepiting lainnya dari belakang. “Maksudnya, terjadi persaingan diam-diam di antara partai Islam dan berbasis massa Islam satu sama lain sehingga terjadilah politik kepiting itu.
Itulah yang membuat keinginan tokoh-tokoh umat Islam--yang beberapa waktu lalu berkumpul agar mereka berkoalasi sehingga bisa mengusung capres di kalangan parpol Islam dan berbasis massa Islam itu sendiri untuk kepentingan keumatan--tidak terpenuhi. Tetap tak bisa keluar dari keranjang, padahal dari zaman baheula mendukung presiden muslim yang tidak berpihak pada Islam dan syariat, keadaannya akan sama saja, podo mawon, bahkan ada atau tiadanya tidak berpengaruh apa-apa bagi umat. Akan lain hasilnya kalau calonnya dari partai Islam, amanah dan peduli syariah. Wallohu ‘alam
Di samping itu, mereka itu memiliki tabiat seperti yang dibahas di atas, yang karena bahasan ini beralih ke politik, sebut saja politik kepiting. Kembali persepsinya bila ditaruh kepiting yang banyak di keranjang maka tidak ada satu pun yang akan keluar. Padahal keranjang tersebut tidak ditutup. Karena setiap kali ada kepiting yang naik untuk melompati keranjang akan ditarik oleh kepiting lainnya dari belakang. “Maksudnya, terjadi persaingan diam-diam di antara partai Islam dan berbasis massa Islam satu sama lain sehingga terjadilah politik kepiting itu.
Itulah yang membuat keinginan tokoh-tokoh umat Islam--yang beberapa waktu lalu berkumpul agar mereka berkoalasi sehingga bisa mengusung capres di kalangan parpol Islam dan berbasis massa Islam itu sendiri untuk kepentingan keumatan--tidak terpenuhi. Tetap tak bisa keluar dari keranjang, padahal dari zaman baheula mendukung presiden muslim yang tidak berpihak pada Islam dan syariat, keadaannya akan sama saja, podo mawon, bahkan ada atau tiadanya tidak berpengaruh apa-apa bagi umat. Akan lain hasilnya kalau calonnya dari partai Islam, amanah dan peduli syariah. Wallohu ‘alam




0 komentar:
Posting Komentar