Home » » GAEK*

GAEK*

 Oleh : Darwin Nasution

Teng...kloteng...teng...teng begitu lapat-lapat terdengar suara orang menokok teralis teras rumah kami. Lalu disambung dengan salam assalamu'alaikum. Saya terbangun dengan berat membuka mata, tetapi tetap diam saja masih sangat ngantuk. Dugaan saya menjelang subuh ada pelanggan kepepet kehabisan elpiji padahal mungkin mau menyiapkan makanan bekal berangkat sekolah atau kerja bagi keluarganya. Teramat sering kejadian begitu maka saya tidak langsung bangun, walau biasanya saya layani juga. Teng...kloteng...teng...teng...assalamu 'alaikum, bu..pak..tolong bapak saya badannya sudah dingin. Ternyata tetangga sebelah meminta tolong melihat ayahnya yang dia ragu apakah masih "ada". Saya bergegas bangun setelah menjawab salamnya, seraya membangunkan istri saya juga, cuci muka lalu beranjak keluar. Saya tatap jam di dinding 01.30 dini hari, ya Kamis dini hari. Pantas tadi raga saya susah diajak berdiri, masih tunduh.


Saya dan istri sampai di rumahnya langsung di minta tolong ke ruangan ayahnya melihat apakah masih bernafas. Kupegang nadi tangan beliau sudah tak denyut nadi di sana, kutempelkan kuping di samping dadanya sudah hilang detak jantungnya. Sudah tidak "ada", kata saya ke bu Vera yang memanggil kami ke rumah. "Kok badannya masih panas", tanya bu Vera memastikan karena tadi katanya dingin. "Itu panas badan yang terakhir", kata saya memastikan. Saya pernah juga menyaksikan hal serupa ketika menemani anak di rumah sakit. Anak di ranjang sampingnya diduga ortunya masih hidup setelah dikasih tahu suster udah "duluan". "Udah tidak ada ini" kata saya kembali memastikan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun, gaek, begitu biasa sepuh orang Padang dipanggil, telah kembali ke hadapanNya. Saya merenung dan menyelinap rasa takut dipanggil karena merasa amal belum cukup. Gaek yang sederhana ini pergi meninggalkan delapan orang anak dan puluhan cucu. Sepuh, benar-benar sepuh, usianya mencapai 83 tahun. Dua hari sebelum kepergiannya, beliau bangkit dari sakitnya yang telah dua bulanan minta jalan-jalan di perumahan menjelang maghrib kurang lebih 200 meter berhenti di pos ronda. Ternyata itu adalah permintaan jalan-jalannya yang terakhir.


Kilas balik, saya pernah duduk bercerita dengan beliau sebelum sakit. Di usia setua itu, ingatannya masih bagus, fisiknya masih fit nampaknya. Giginya nyaris masih sempurna, ompong satu di bagian samping seingat saya. Beliau bercerita pengalamannya merantau sehabis SD dan menikah kira-kira seusia habis SMP. SMP tidak pernah ia jalani karena perantauannya waktu seusia itu sudah sampai ke Thailand sebagai anak kapal. Berhenti dari kapal begitu menikah menetap di Betawi, sekitaran Jakarta Selatan katanya sekarang. Berganti haluan ke passion orang-orang asalnya padang, berjualan. Ya berjualan apa saja katanya, pakaian, buah atau lainnya. Pada akhirnya katanya mendarat di Rempoa Ciputat, anaknya ada 9 orang. Singkat cerita katanya anaknya meninggal satu tinggal delapan, dan istrinya juga sudah meninggal. Mereka dimakamkan di dekat rumah salah satu anaknya di kawasan Parung Bogor. Kata Vera anaknya tadi, bapaknya juga ingin dimakamkan kalau suatu saat meninggal di pemakaman yang sama dengan anak dan bininya.


Sebelum menetap di rumah Bu Vera, Gaek sempat pulang ke Padang dan menikah lagi dengan perempuan 45 tahunan. Itulah perempuan yang menemani usia tuanya sampai saat terakhir hidupnya. Setahun yang lalu, cerita gaek waktu itu, dia memutuskan dekat dengan yang banyak saja. Anaknya cuma satu di Padang, di sini masih ada 7 orang. Berangkat ke seberang menetap di Bogor, di samping rumah kami tempat Bu Vera tukang fotokopi itu. Gaek masih sempat jualan kaca mata di Bogor, kadang ke pasar, kadang digelar alakadarnya di depan rumah anaknya. Pokoknya katanya ingin di sini saja, sambil dagang, tak berniat lagi pulang ke Padang.


Ternyata, firasat gaek benar. Memang mungkin beliau ditakdirkan searea kuburan dengan anak dan istrinya. Dua hari yang lalu gaek bersahaja yang merasa sudah sangat berbahagia telah menikahkan semua anak termasuk yang sudah duluan pun meninggal sejarahnay sudah menikah, pergi meninggalkan kefanaan dengan mengejutkan. Beliau tidak menderita sakit parah dan lama, tak menyisakan masalah buat anak-anaknya. Benar saja begitu selesai 3 hak mayat kami laksanakan memandikan, mengkafani, dan menshalatkan di komplek kami Griya Darmaga Asri Cibanteng Bogor, anak-anaknya langsung memboyongnya untuk dimakamkan di bilangan Parung Bogor. Diberangkatkan dengan segenap pilu sebagian anggota keluarganya, menuju rest area terakhir di sekitar makam anak dan istrinya sesuai wasiat lisan yang sering beliau ucapkan sebelum kepergiannya. Qolu innalillahi wa inna ilaihi rojiuun, selamat jalan gaek. Rest In Peace.



*telah tayang di FB Feb 2014, ayah bu pera, tetangga sebelah

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. DARWIN SUTIMIANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger